Adu Rayu di Masa Post Partum

Setelah beberapa waktu lalu ramai dengan Tim S atau Tim L. Kini netizen meramaikan dunia maya ini dengan Tim Nicho atau Tim Cicho. πŸ˜†

Hehehe... (Kata Nisrin: Bunda iseng ih.. 🀣)

Menurut saya Adu Rayu Tim Nicho dan Tim Chicco lebih seru pastinya.. 😁
Pilih mana? Nicho lah.. Tapi seandainya perannya ditukar, tetep pilih Nicho. Wkwkwk... 🀣 Jadi bukan soal kisah dan perannya, tapi siapa pemerannya yang jadi alasan utama dalam memilih Nicho. πŸ˜‚πŸ€£

Abaikan saja ya.. Karena mau nicho atau chicco.. Kalau ditanya sama Mr. Agung Hs.. πŸ‘‡
Keep Calm ya suamiku.. πŸ˜†πŸ˜˜

Di masa post partum yang perlu ketenangan ini.. πŸ˜‹ Saya merasakan adanya adu rayu yang lebih menggoda daripada Adu Rayu nya Nicho dan Chicco.. Ya iyaaa lah.. 🀣 Apa aja.. ? Kuy atuh.. Simak curcol panjang kali lebar inih... πŸ˜†πŸ˜‰

Adu Rayu Aneka Merek Pompa ASI 😌

Sejak masih mengandung Baby Ali, saya sudah melirik-lirik aneka merek pompa ASI, baik yang manual maupun elektrik. Dari berbagai blog dan tanya sana sini, bagi yang ingin menyimpan ASIP, pompa elektrik lebih direkomendasikan. Tapi jika untuk mengosongkan ASI pada PD saja, pompa manual dan memerah ASI dengan tangan juga bisa diandalkan. 

Saat menyusui Nisrin, saya berusaha untuk menyiapkan ASIP, karena Nisrin terlahir premature dan harus dirawat, jadi tidak setiap saat bisa direct breastfeeding. Dan saat saya melanjutkan kuliah, Nisrin harus dititipkan di Day Care. Saat itu, karena keterbatasan saya dalam berbagai hal, Nisrin tidak full ASI, tetap ditambah susu formula.  

Saat menyusui Evelyn, karena merasa bisa selalu direct breastfeeding, maka saya tidak menyiapkan ASIP. Meski PD sering bengkak, biasanya ASI yang "berlebih" saya buang. Untuk Evelyn, saya berhasil menyusuinya secara tuntas hingga 2 tahun lebih.

Beda lagi saat menyusui Kirei, saya hanya bisa menyusuinya sampai 7 bulan. Karena saya sakit cukup parah, dan ASI berhenti secara berangsur-angsur di bulan ke-8. πŸ˜’πŸ˜”

Nah.. Sekarang Saya belajar lagi menyusui Ali. Belajar dari pengalaman yang lalu, dan konsultasi pada konsultan menyusui. Memerah/memompa ASI tetap bermanfaat, meski sang Ibu bisa melakukan direct breastfeeding. 

Dan.. Ternyata, memang sangat bermanfaat, diantaranya: untuk menjaga produksi ASI, mencegah mastitis, dan punya stok ASIP sebagai persediaan.

Usia 0 s.d 2 minggu, Ali harus sering dibangunkan untuk minum ASI (katanya bayi prematur memang banyak tidur). Pelekatan juga belum berhasil, karena bayi prematur mulutnya kecil, dan kemampuan oral motornya masih perlu dilatih. Efeknya, puting Saya lecet-lecet, dan berasa horor untuk menyusui. πŸ‘»

Lagi dibangunin untuk mimi, dengan distimulasi
Oral Motor nya.. 

Karena itu, supaya asupan ASI untuk Ali tetap memadai, dan Saya pun terhindar dari mastitis. Maka saya rajin memerah/memompa ASI. Pemberian ASI dilakukan dengan dua cara, direct breastfeeding dan disuapi ASIP (tapi suka juga pakai botol.. πŸ€πŸ‘Œ)

Pengalaman saya memerah/memompa ASI juga masih sangat minim. Zamannya Nisrin, Saya menggunakan pompa ASI manual yang ada karet merahnya itu lho.. Belum kenal jenis pompa lainnya. Rasanya? Agak tersiksa, karena peureus and cangkeul gaes... 😫🀐

Makanya, saya melirik aneka pompa dengan jenis dan merek yang beragam. Saya melirik merek medela dan spectra. Dari berbagai review di internet, dan teman-teman busui, merek tersebut nyaman digunakan. 

Tapi.. Saya juga melirik merek lain, yaitu Philips Avent. Dari hasil googling sana-sini, ternyata Philips Avent juga recommended. 

Dari hasil googling sana-sini itu, alhasil saya jadi bingung menentukan pompa ASI. πŸ˜… Karena khawatir tidak cocok atau tidak nyaman, saya request pada Suami untuk menyewa dulu pompa ASI. 

Setelah mendapat kontak tempat penyewaan pompa ASI, ternyata yang ready to rent hanya merek Spectra. Jadi tidak ada pilihan lain. Saya pikir, tak apa.. Dicoba saja dulu, siapa tau cocok, baru pertimbangkan untuk beli. 

Eh tapi.. Sebelum saya sempat menyewa pompa ASI merek Spectra, saya malah dapet rejeki punya Pompa ASI Philips Avent Single Electric. 😍☺️

Komponen Utama Pompa ASI
Single Electric Philips Avent

Ya sudah.. Gak jadi Sewa pompa ASI Spectra nya... Dan Adu Rayu merek pompa ASI berakhir karena takdir rejeki yang tak disangka-sangka. Hehehe... πŸ˜…πŸ˜‚

Setelah menggunakan Pompa ASI Philips Avent, saya merasa nyaman dan cocok. πŸ˜‰
Alasannya:

  • Gak peureus atau sakit, karena ada silicon pad nya (kalau posisinya udah pas dan puting gak lecet ya... Kalau puting lecet, meski posisi pas, tetep kerasa sakit. Tapi mendingan lah.. Daripada direct breastfeeding dengan puting lecet. πŸ‘»).
  • Gak pegel. Karena bisa dipakai sambil bersandar dan tentunya tangan juga gak pegel untuk mompa. 
  • Komponennya mudah dibersihkan. Desainnya bagus, jadi semua bagian itu mudah diakses saat dibersihkan.
  • Sparepart nya bisa dibeli terpisah. Jadi manakala ada yang rusak, bisa beli yang diperlukannya aja.. πŸ˜‰πŸ‘

ASIP yang saya simpan tidak banyak. 2 minggu pertama, ASIP langsung saya berikan pada Ali di hari yang sama. Setelah Ali berusia lebih dari 2 minggu, ASIP diberikan hanya saat saya harus keluar rumah (pergi Belanja atau ke dokter misalnya).

Saya tidak (belum) berencana untuk menyimpan ASIP dalam jumlah banyak, (tapi kalau berlebih ya pasti saya simpan). Saya cuma berdoa dan ikhtiar, supaya produksi ASI saya terus lancar, sehingga Ali bisa mendapat ASI selama 2 tahun.. ☺️πŸ˜‰

Adu Rayu Gendongan Bayi

Inovasi dalam produk gendongan bayi ternyata cukup pesat dan menakjubkan. πŸ˜†
Beragam merek dan model gendongan bayi, tersedia dengan fitur dan kelebihannya masing-masing. Bahkan, sekarang menggendong pun ada komunitasnya.. πŸ˜―πŸ˜πŸ‘ Karena ternyata menggendong pun perlu ilmu. πŸ˜‰

Setelah googling (always.. πŸ˜†πŸ˜‚), menggendong yang baik dan benar itu.. "sangat bisa" menggunakan model gendongan klasik, seperti kain jarit. Karena itu, model kain gendongan juga sekarang banyak inovasinya (inilah yang bikin saya bingung untuk memilih πŸ˜…). Bukan cuma kain jarit sejenis batik, tapi ada yang terbuat dari mesh fabric, kaos, tenun, atau yang gambarnya lucu-lucu. Ada yang tipe instant (sudah dijahit dengan beragam ukuran dan style), ada juga yang diberi tambahan ring agar lebih mudah digunakan.

Selain model klasik, ada juga model wrap, yang sebelumnya juga pernah saya pakai. Model wrap ini juga ada inovasinya, yaitu model simple atau instant wrap. 

Yang paling modern, gendongan yang dikenal sebagai baby carrier, ada tipe hip seat ada juga yang soft structured.

Dari ketiga model tersebut, saya memilih kain jarit dan wrap. Meskipun cukup lama sih.. untuk akhirnya mantap memilih. Alasannya.. pertama karena kain jarit  dan wrap mudah digunakan dan sudah tersedia.. (thanks to my sister.. πŸ’ž 😁).

Hanaroo dan Kain Jarit

Yang kedua, karena sangat nyaman bagi saya dan bayi (udah ada pengalaman memakai πŸ˜‰πŸ‘Œ).

Untuk gendongan model carrier, mungkin nanti saat Ali sudah lebih dari 1 tahun.

Sampai saat ini, Ali masih jarang digendong memakai kain gendongan. Biasanya hanya digendong saat disusui atau berjemur saja, tanpa kain gendongan.

Jadi sampai sekarang saya cuma rajin nonton video tutorial, supaya saat ada kesempatan gendong pakai kain, sudah siap..

Lalu kenapa galau kalau belum perlu dipake? Wkwkwkwk... 🀣 ampun ya ibu-ibu..

Adu Rayu Jenis Popok Bayi

Popok Bayi yang bisa digunakan ada 2 jenis: Popok Sekali Pakai dan Popok Kain dengan jenis dan mode yang beragam. 

Sejak Evelyn bayi, saya sudah menggunakan Popok Kain (model Clodi), meski masih kombinasi dengan penggunaan pospak. Tapi saat Kirei bayi, saya bisa full menggunakan Popok Kain (model Clodi).

Baca: Pengalaman Menggunakan Clodi

Nah, untuk Ali.. Saya juga sejak awal ingin full memakai popok kain. Maka dari itu saya sudah siapkan Clodi sejak hamil (gak prepare yang lainnya.. πŸ˜†πŸ˜‚)

Tapi.. Karena berat badan Ali belum sampai 3 kg saat lahir, Clodi nya masih kebesaran. 
Ada Clodi ukuran newborn, tapi setelah dicoba ternyata masih kebesaran. πŸ™„ Karena itu, saya urung membeli clodi lagi. Dan Ali pun pakai pospak dan popok tali.

Pakai Popok Tali + insert clodi + fleece liner

Kemudian setelah Ali berusia 3 minggu, saya melirik kembali flat diaper. Saya coba beli kain muslin ukuran 70 x 60 cm (Akhirnyaaa... πŸ˜†Padahal sejak hamil niatnya siapin flat diaper dulu). Bahannya adem, lembut, mudah menyerap cairan. Tapi kalau sekali pipis, langsung basah kuyup karena tipis. Jadi harus pakai cover.

Pakai Kain muslin dengan origami fold + Fleece Liner

Karena belum punya universal cover yang ukuran kecil, jadi coba-coba pakai cover clodi yang newborn merek George dan merek Popoki produk KIPMA. Ternyata dilihat-lihat, cukup nyaman dan gak bulky, tampak bulky kalau pakai insert.. Jadi solusinya, sedia lebih banyak kain muslin untuk jadi insert (dilipet-lipet), atau tetep dipakai ala flat diaper. πŸ‘Œ

Inner Clodi Pempem + Fleece Liner + Cover Clodi Merek George

Pakai inner Clodi Pempem + Fleece Liner + Cover Clodi Merek Popoki

Yah.. Itulah 3 macam Adu Rayu di masa post partum yang pernah bikin saya galau.

Sekarang enggak dong.. Karena sudah dilewati.. πŸ’ƒ Tapi mungkin nanti galau lagi saat masa MPASI. Wkwkwkwk... πŸ˜‚πŸ˜‚ 

Gak apa-apa ya gaes.. Yang penting berusaha untuk terus belajar. Jadi saat menghadapi berbagai "rayuan", bisa tetap berpikir logis dan berusaha untuk bersikap bijak. 

Maaf ya, kalau tulisannya jadi kepanjangan dan kacau korelasi judul-kalimat-paragrafnya.. Suka-suka busui asal happy dalam menulis di blog. πŸ˜…πŸ˜† Semoga tetap ada manfaatnya. πŸ˜‰πŸ˜Š

Tidak ada komentar:

Posting Komentar