Kelahiran Sang Bayi Laki-Laki

Bagaimana perasaan seorang ibu hamil yang sedang menunggu hari kelahiran sang bayi? Campur aduk beraneka rasa pasti memenuhi relung hatinya. Soal respon atau komentar terhadap ibu hamil yang beraneka ragam, tak perlu dibahas ya.. Karena itu lebih nano-nano lagi rasanya. πŸ˜†

Namun ada rasa yang mendominasi setiap kali mendekati waktu melahirkan. Cemas. Cemas apakah bisa lahir normal? Cemas apakah ibu dan bayi bisa selamat? Cemas apakah bayi akan terlahir sempurna fisik dan kesehatannya? Dan aneka macam kecemasan yang kerap datang dan kembali, meski sang ibu sudah menanamkan pikiran positif pada dirinya sendiri. 

Di Jum'at pagi, Saya merasa ada yang aneh, dan membuat alasan untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Ternyata alasan itu memamg beralasan.. Beberapa menit kemudian, saya merasakan adanya rembesan air yang hangat. Pernah mengalami hal yang sama. Saya langsung tahu, itu adalah rembesan air ketuban.

Tak banyak pikir panjang, saya langsung menghubungi Bidan langganan, untuk konsultasi. Dan beliau minta saya segera datang ke tempatnya untuk diperiksa. 

Saya tidak langsung ke rumah sakit, karena pengalaman ketuban pecah lebih dulu dari HPL pernah saya alami. Jadi ketuban yang rembes atau pecah tanpa disertai kontraksi, biasanya tidak akan langsung "dipaksa" melahirkan. Dan kali ini, rembesannya tidak separah pengalaman sebelumnya (anak pertama), jadi saya tidak terlalu panik. 

Dari hasil pemeriksaan Bidan, ketubannya rembes cukup banyak, tidak ada kontraksi dan pembukaan. Sehingga saya dirujuk ke rumah sakit. Sebelum akhirnya saya dirawat inap di Rumah Sakit R, saya sempat mendatangi rumah sakit rujukan dan alternatif lainnya. Namun batal, karena ketiadaan dokter obgyn dan rumah sakit yang tampak tidak kondusif. 

Alhamdulillah, di rumah sakit R saya langsung mendapat penanganan yang cepat dan nyaman. Saya diminta bedrest, sambil menunggu hasil observasi. Perawat dan bidan kerap berulang kali bertanya, "Ibu mules gak?" Dan saya dengan yakin selalu menjawab "tidak ada mules suster.."
Setelah observasi dan pemeriksaan dokter, saya diberitahu bahwa bayi siap lahir secara normal dalam 2x24 jam. Sambil menunggu, saya akan diberi 4 suntikan untuk penguat paru-paru bayi. Dan induksi untuk menstimulus kontraksi dan pembukaan. Tapi alhamdulillah, baru 2x suntikan penguat paru-paru, Saya merasakan kontraksi yang konstan, dan ternyata sudah masuk fase pembukaan 7 tanpa induksi. 
Karena langsung ketahuan saat pembukaan 7, bidan dan perawat berkomentar.. "ibu pinter nahan sakitnya.. Gak bilang mules, padahal harusnya udah bilang mules.." πŸ˜ΆπŸ‘€

Mengenai mulas dan kontraksi ini, saya sepertinya memang sudah lupa rasanya kontraksi dan ambang sakit saya sudah meningkat saat mengalami gingivitis dan kambuhnya trauma dislokasi rahang di masa kehamilan. Sehingga saat mulas sedikit, saya tidak menganggap itu sakit dan mulas. Padahal sebenarnya itu sakit dan mulas.. Hhaa.. Membingungkan ya? πŸ˜…

Pukul 4 pagi, saya merasakan kontraksi per 10 menit. Masuk subuh, kontraksinya per 5 menit. Pukul 5 pagi, sudah masuk pembukaan 8-9, rasanya sudah ingin meneran dan mendorong si bayi keluar. Bidan dan perawat, terus memotivasi saya untuk berusaha untuk tidak meneran, menunggu pembukaan 10 dan dokter datang. Rasanya? Sulit diungkapkan ya.. Hanya yang pernah merasakan yang bisa memahaminya. ☺️

Alhamdulillah, pukul 05.45 bayi laki-laki lahir dibantu oleh dokter obgyn, 2 bidan dan 1 perawat. Proses melahirkan yang normal tanpa jahitan ini, baru kali pertama saya alami. Karena anak sebelumnya selalu ada jahitan. Keluarga saya ada yang berkomentar, "udah hafal jadi bisa lancar.." πŸ€”πŸ™„πŸ˜Œ

Tapi menurut saya bukan karena ini anak ke-4, sehingga bisa "lancar". Tapi ada faktor-faktor yang mendukung dan menjadi sebab ini semua bisa terjadi, selain karena sudah takdir Allah SWT.

Faktor yang mendukung proses melahirkan normal, lancar, tanpa jahitan adalah:

  • Kasih sayang Allah SWT. Ini yang utama ya.. Untungnya Allah sayang pada semua makhluknya, tanpa memandang amal perbuatannya. Sehingga siapa pun bisa merasakan kehamilan normal tanpa jahitan. (Penting! Ini tuh hal alami, yang tak perlu digembar-gemborkan, apalagi disombongkan, naudzubillah.. Jauhkan kami dari sifat sombong. #notetoself)
  • Doa dan dukungan dari suami, keluarga dan orang terdekat. 
  • Afirmasi positif pada diri sendiri. Kalimat yang saya afirmasikan adalah, "tubuh saya tahu caranya melahirkan secara normal.. otot saya mampu bergerak dengan lembut untuk membantu bayi mudah lahir. Rasa sakit itu normal, saya bisa merasakannya dan tetap bahagia."
  • Dukungan dari suami. Saat ada tanda kontraksi, saya minta suami untuk memijat (mengusap lebih tepatnya) punggung, paha dan kaki saya dengan lembut. 
  • Keterampilan menarik dan membuang nafas panjang. Ini tantangan sekali bagi saya, karena saya punya sedikit gangguan dalam pernafasan melalui hidung. Sehingga bantuan bidan dengan memberi instruksi yang jelas, sangat bermanfaat bagi saya. "Tarik nafas panjang lewat hidung.. Buang nafas lewat mulut, tetap tenang.." 
  • Keterampilan melemaskan otot kaki. Saat sudah hampir lahir, otot kaki saya menegang.. Bidan sempat bilang, "ibu.. Kakinya dilemaskan yuk.." tapi mendengar itu, saya malah blank.. Gimana caranya melemaskan otot kaki, perasaan ini tegang juga karena efek spontan. Hahaha.. Tapi dokter obgyn kasih trik jitu. Melihat otot kaki saya tetap tegang, dokter dengan tenangnya berkata, "coba buang nafas... Buang nafas lagi." Saat itu tidak berfikir soal melemaskan otot, fokus buang nafas.. Eh ternyata otot kakinya lemes sendiri. 😍☺️ (Mungkin jika pembaca tulisan ini rutin senam atau yoga hamil, saya langsung diketawain.. πŸ˜†πŸ˜)
  • Mampu meneran di saat yang tepat. Meneran sebelum pembukaan sempurna, pasti menyebabkan robeknya jaringan. Mendengarkan dan coba untuk meneran hanya saat diinstruksikan oleh tenaga medis, bisa mencegah robeknya jaringan. Apakah saya mampu melakukannya lagi? Hhahaha.. Belum tentu.. πŸ˜£πŸ™„πŸ€ Tapi jika ditakdirkan punya anak lagi, semoga prosesnya dimudahkan kembali.. ☺️

Rasanya pasca bayi lahir? Plong.. πŸ˜„πŸ˜πŸ€—

Menurut saya, moment saat bayi keluar itu penuh dengan sensasi yang membuat saya lupa soal sakitnya kontraksi dan lelahnya menunggu pembukaan 10. Katanya, moment itu juga merupakan instruksi agar tubuh mengeluarkan hormon oksitosin. (Maaf belum sempet searching validitas dan referensinya ya.. Saya fokus ke kisah dan pengalaman saya dulu.. πŸ˜πŸ˜‰)

Saya bersyukur, bisa melahirkan dengan nyaman, dengan tenaga medis yang cekatan, sejak awal masuk rawat inap, bersalin dan pemulihan pasca bersalin, saya tidak turun dari tempat tidur. Namun pakaian saya sama sekali tidak kotor. Tetap bersih. Sehingga saya merasa nyaman. 

Bayi laki-laki kami, lahir di usia kehamilan 36 minggu, dengan berat badan 2.3 kg panjang 45 cm. Alhamdulillah setelah 24 jam observasi, bayi kami sehat tidak ada infeksi. Meski bberat badannya masih kurang, karena sehat dan ASI sudah bisa diberikan, maka kami dibolehkan pulang. Alhamdulillah.. 

Bayi laki-laki ini kami beri nama Ali. Nama Ali ini sudah Saya tetapkan sejak kecil. Ya.. Punya anak bernama Ali merupakan impian saya sejak kecil. Sejak hamil pertama, dan setiap kali hamil, Saya selalu memanggil janin dalam rahim saya, Ali. Alhamdulillah.. Akhirnya Ali benar-benar terpanggil dan lahir ke dunia ini. 

Suami setuju untuk menamainya Ali, dengan nama lengkap Ali Hedianto Satria a.k.a Ali Hs. Suami punya alasan tersendiri, 
nama Ali terinspirasi dari Sayyidina 'Ali sepupu Nabi, " Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, barang siapa yg ingin mereguk lautan ilmu masuklah lewat Ali).


Semoga menjadi anak sholeh dan berbakti. πŸ˜πŸ€—

Terima kasih tak terhingga kepada mamah @evakartadinata, Adik-adik terutama @tsurayya_azzahra dan semua yg turut mendoakan, semoga menjadi amal sholih. Aamiin.

Terima kasih telah menyimak kisah kelahiran Ali.. Nantikan kisah selanjutnya di Rumah Nisrin.. πŸ˜ŠπŸ€—

14 komentar:

  1. Masyaa Allah teh Chika, pelajaran berharga buat saya yang baru melahirkan 1x. Alhamdulillah diberi kelancaran sampai lahiran πŸ˜πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba kiky.. Saya tulis supaya jd pengingat bagi diri sendiri juga..

      Hapus
  2. MasyaaAlloh Tabarakalloh...terharu mendengar pengalamannya chika nih, pengalaman hamil dan melahirkan adalah moment luar biasa bagi seorang ibu. Semoga baby Ali bs menjadi anak shaleh, menjadi qurrota'ayun dan tabungan akherat bagi kedua orang tuanya aamiin

    BalasHapus
  3. Luar biasa perjalanan seorang ibu dalam menjalani momen kelahiran buah hatinya.
    Turut bahagia, selamat semoga teh cika dan bayinya sehat.

    BalasHapus
  4. assalamu'alaykum adek Ali..sehat-sehat selalu ya Nak..proses melahirkannya nyaman banget mbak..jadi pengen hamil lagi..eh...gak ah cukup 2 aja hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba novy.. Alhamdulillah dimudahkan.. πŸ’ž Blog nya aja yg beranak ya..

      Hapus
  5. Selamat datang di dunia kasΓ©p Ali... Alhamdulillah ya Teh sudah sehat dan lancar segalanya.

    Saya kapan atuh nih? Hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Teh okti mendapatkan momongan lagi di waktu yang tepat.. πŸ€—πŸ’ž

      Hapus
  6. Babang aliiii... Selamat datang yaaa...semiga menjadi anak sholih , anak yg pintar dan menyenangkan bagi kedua orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Mak ikaaa... Kangen ih.. πŸ’žπŸ€—

      Hapus