Playdate World Food Day 2018

Sekitar 3 minggu lalu, Saya mendapat tantangan untuk menjadi Fasilitator Playdate untuk member Rumbel Playdate di Komunitas Ibu Profesional Bandung. Tantangan itu saya terima, tanpa tahu konsep apa yang akan Saya ambil. Supaya mendapat inspirasi tema, Saya mencari referensi hari-hari besar yang ada di bulan Oktober. Ternyata banyak juga ya.. momen hari besar nasional maupun internasional di bulan Oktober ini. Diantaranya: Hari Kesaktian Pancasila, Hari Batik Nasional, Hari Museum, Hari Pangan Sedunia, Hari Santri, dan hari besar lainnya. 

Setelah mengetahui momen-momen hari besar yang ada di bulan Oktober, Saya dan anak-anak menggelar Family Forum, untuk membahas tema apa yang akan diambil. Dan kami sepakat untuk mengambil tema Hari Pangan Sedunia atau World Food Day.

World Food Day ini pertama kali dicanangkan saat pendirian lembaga Food and Agriculture Organization (FAO) di bawah naungan PBB. Tujuan dicetuskannya World Food Day adalah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kemiskinan, kelaparan dan ketahanan pangan. Meskipun setiap tahunnya, World Food Day mengusung tema yang berbeda, namun ketahanan pangan menjadi fokus utama dalam gerakan ini, karena ketahanan pangan dapat merefleksikan kemampuan dasar setiap individu untuk mendapatkan makanan dan menjaga ketersediaannya. Tema tahun ini adalah Aksi Kita Masa Depan Kita - Our Actions are Our Future.

Family Forum Playdate World Food Day

Supaya tema World Food Day ini memiliki kesan yang bermakna, maka saya mengajak anak-anak berdialog tentang kelaparan dan Ketahanan Pangan. Menjelaskan Ketahanan Pangan pada Nisrin, Evelyn dan Kirei tentu tidak mudah. Saya mengajak anak-anak untuk menonton beberapa film tema World Food Day, dimana menunjukkan banyak anak di daerah dan belahan bumi lainnya yang kelaparan. 

Kemudian saya menanyakan pada anak-anak, apakah di bumi ini tidak ada makanan? Tentu saja tidak, di bumi ini terdapat sumber makanan yang melimpah ruah. 

Namun mengapa ada yang kelaparan? Karena tak semua punya uang untuk membeli makanan.

Kenapa makanan harus dibeli padahal itu kebutuhan setiap orang? Karena makanan ada yanag perlu ditanam dulu.. Petaninya perlu uang, jadi tanamannya dijual. Ikan ngambilnya di laut, jadi gak bisa ambil sendiri. Jadi perlu beli ke Nelayan.

Dengan gambaran seperti itu, anak-anak bisa membayangkan kalau untuk mendapatkan bahan makanan, prosesnya panjang dan perlu biaya. Sehingga membuat bahan makanan bertambah mahal. 

Lalu saya bertanya, seandainya setiap rumah bisa memproduksi makanan sendiri, apakah akan ada biaya? Ada, tapi tidak terlalu mahal. 

Apakah ada bahan makanan yang dihasilkan di daerah sendiri? Ada. 

Jika kita membeli langsung, apakah akan lebih murah? Ya.. 

Apakah semua orang suka dengan bahan makanan lokal (Saya memberi contoh, Lalapan, ubi, singkong, sayuran atau buah lokal)? Ada yang suka, ada yang tidak. 

Apakah bahan makanan lokal tersebut banyak dicari? Sepertinya tidak, kita lebih sering beli makanan jadi, makanan instant atau modern. 

Bagaimana nasib bahan makanan lokal jika tidak banyak dibeli? Tidak laku, busuk lalu dibuang. Lalu lama-kelamaan bahan makanan lokal semakin jarang dijual atau ditanam karena kurang peminatnya. 

Jadi, perlukah ketika menyelamatkan bahan makanan lokal, dengan mengkonsumsinya? Perlu.. biar gak mubazir. Tapi tetep cari yang berkualitas. 

Aih... ternyata, membicarakan tema World Food Day ini bisa membuka wawasan yang begitu luas. 😍

Kemudian, Saya mengajak anak-anak untuk menyebutkan bahan makanan lokal yang ada di pasar. Anak-anak cukup sering ikut belanja ke pasar tradisional, sehingga cukup mengenal berbagai bahan makanan, diantaranya pisang muli, pisang tanduk, nangka, belimbing, arbei, kedongdong, aneka lalapan, kacang tanah, ubi, singkong, tut tut, baby fish, jamur dll. 

Itu makanan yang sehat dan enak gak? Enak, mereka sepakat. 

Itu makanan favorit kebanyak orang bukan? Sepertinya bukan. 

Nah.. setelah kami melakukan dialog tersebut, Saya mengajak anak-anak untuk menyajikan makanan lokal di Playdate World Food Day. Alhamdulillah anak-anak setuju, karena kami juga termasuk penggemar ubi, singkong, kacang rebus dan aneka buah lokal. Jadi kami pasti bisa menikmatinya. :D

Ini contoh singkong aja yaa... Lol.. XD

Dialog tentang World Food Day terus berlangsung, menggunakan teknik power of question. Hingga akhirnya kami sepakat dengan konsep acara Playdate-nya. 

Alhamdulillah, persiapan Playdate World Food Day bisa berjalan sesuai rencana. Selasa, 16 Oktober 2018, kami membawa semua perlengkapan playdate ke tempat acara. Acara playdate ini awalnya akan diadakan di selasar  masjid PUSDAI. Namun dikarenakan ada acara besar di PUSDAI, khawatir tiba-tiba tidak diijinkan untuk riang-riung di sana. Maka lokasi playdate dipindah ke Rumah Teh Wiwik Wulansari (Pengurus RB Playdate IP Bandung). 

Rundown Playdate World  Food Day

  • Perkenalan dan Cemal-cemil Buah-buahan. Buah-buahan yang Kami sajikan: Pisang Muli, Jambu Batu dan Belimbing. (Gak ada foto, karena sejak datang ke lokasi playdate sampai selesai, gak pegang HP sama sekali.)

  • Membuat Headband Tema Sayur dan Buah. Setiap kegiatan perlu warming up dulu, gak bisa langsung ke acara. Makanya, sambil cemal-cemil, peserta playdate kami ajak untuk membuat headband yang ada tulisan nama buah/sayur dan nama masisng-masing. Contohnya: Nanas Kirei, Ceri Farid, Alpukat Nafas, dsb.
Headband tampak samping
  • Games. Games yang kami fasilitasi dimulai dari stretching dengan media lagu sederhana. Kemudian dilanjut dengan permainan menyebutkan nama sayur, buah dan makanan. Lalu dilanjut dengan permainan sunda, Ngala Hui. (Ini juga gak ada fotonya, karena semua ikut main, tapi seru pisan)

  • Story Telling. Cerita yang disampaika, berkisah tentang Gege si Kambing Luar Biasa. Disadur dari buku cerita "Gregory The Terrible Eater".
Story telling nya di teras dan halaman, biar gak bosen. 

  • Fruit & Veggie Stamping. Sebelum memutuskan untuk menyajikan kegiatan stamping, kami sempat mencoba shibori dan eco print. Tapi setelah dicoba dan dievaluasi, lebih cocok kegiatan stamping. Kegiatan stamping menggunakan sisa-sisa buah dan sayur. Kalaupun ada yang menggunakan bagian buah yang cukup banyak, seperti apel, diusahakan ada bagian yang tetap dimakan. Dan tentunya, setelah kegiatan selesai, sampah organiknya dijadikan kompos. 
  • Cemal-cemil Makanan Lokal. Setelah berkegiatan, tentu perlu di charge lagi energinya. Maka kami sediakan Ubi kukus, Kacang rebus, Pisang Muli dan Tut tut. Yummy... (No picture available, khusyu' bersantap dan ngemutin tut tut.. wkwkwkwk XD)

  • Compost Art. Compost Art bertujuan untuk memanfaatkan sisa organik menjadi karya kreatif sebelum menjadi sampah organik. Jadi, ini semacaam memberi kesempatan pada bakal calon sampah organik untuk tampil cantik dan menarik XD.
 
  • Penutupan. Kegiatan tidak ditutup secara formal, karena sebagian peserta sudah harus pulang. Dan kami pun hanya sempat berfoto dengan 1/3 peserta (sepertinya..).
Alhamdulillah acara berlangsung seru dan lancar, diikuti oleh 15 anak (termasuk Nisrin, Evelyn dan Kirei). Karena kegiatannya melibatkan para ibu, jadi bukan hanya anaknya yang bermain, tapi ibunya juga. Playdate World Food Day berlangsung seru dan meriah. 

Apakah kami akan memfasilitasi kegiatan playdate lainnya? Hmm... insyaa Allah, tapi setelah dibahas kembali di family forum, sepertinya Hs Family baru bisa memfasilitasi playdate max. 1-2 bulan sekali. Apakah ada yang tertarik untuk ikut Playdate bareng Kami? :D 

4 komentar:

  1. Kalau lagi di Cjr mau lah Teh ikutan. Selama ini saya bela2in suka ke Bdg buat ikut play date di Bdg. Kalau ada yg dekat mau pisan. Infokan dari awal ya Teh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaa Allah teh okti.. ini juga masih bolak balik bandung cianjur, untuk bikin event.

      Hapus
  2. Wah, asyik juga kegiatannya ya mbak. Kayaknya bisa diadopsi konsep kegiatan kek gini di Kotaku supaya anak-anak paham dengan makanan yg mereka makan karena banyak anak yg tidak suka makanan lokal, terutama sayur dan buah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba.. tiap daerah kan punya banyak sayur buah dan lauk yang khas..

      Hapus