6 Tips Mendongeng pada Anak

Sejak kecil kita terbiasa untuk mendengar kisah, cerita atau dongeng sebelum tidur. Kegiatan bercerita atau mendongeng merupakan hal yang selalu disukai anak. 


Berbagai praktisi pendidikan anak pun selalu memberikan anjuran agar kegiatan mendongeng menjadi kegiatan rutin dalam pendidikan anak usia dini. Apakah anjuran tersebut diberikan atas dasar disukai anak-anak saja?


Tentu saja tidak, karena ternyata cerita dan dongeng bisa menjadi Media untuk menanamkan nilai: Karakter, Tuntunan, dan Sugesti Positif. 

Nah.. Kita sebagai orang tua kan banyak banget tantangannya. Kadang ingin menasehati (tapi anak gak suka dinasehati), ingin menyampaikan mana yang boleh atau yang tidak boleh, atau ingin anak memiliki karakter-karakter positif. Nah.. manfaatkan kegiatan dongeng untuk itu yuk..

Eh tapi, belum bisa mendongeng.. Hmss... Kalau kita ingin seperti Kak Ria Enes dulu, mungkin gak akan jadi mendongengnya. 😂 Kita juga bisa berkisah atau mendongeng kok. Berikut ini 6 Tips yang bisa kita lakukan agar dapat mendongeng dengan baik:


  • Syarat utama agar bisa berkisah dan mendongeng dengan baik adalah: PD. Mendongeng di depan anak, kita harus tampil meyakinkan dan sungguh-sungguh. Maka kita harus tampil dengan penuh percaya diri, karena ini adalah modal untuk melakukan teknik selanjutnya.

  • Ekspresif. Menyampaikan perasaan atau kejadian dalam suatu cerita diperlukan ekspresi yang meyakinkan. Bayangkan saja jika kita ingin menyampaikan ekspresi sedih, tapi ekspresi kita datar atau malah tersenyum. Tentu anak tidak akan secara jelas menangkap perasaan dalam cerita tersebut.

  • Latihan Vokal. Ada beberapa suara yabg minimal kita latih: Suara Besar (Perut), Suara Biasa, Suara Nada Tinggi. Hal ini diperlukan agar kita bisa menghasilkan beragam suara untuk  karakter maupun latar belakang cerita. 

  • Menguasai Alur Cerita. Kita bisa bercerita tanpa harus mengahafal dialog dan narasi secara keseluruhan. Yang penting, kita mengetahui alur bagian pembuka, utama, dan penutup. Dengan demikian kita bisa melakukan improvisasi, namun cerita tetap teersampaikan dengan utuh. 

  • Santai. Sebaik apapun suara yang bisa kita hasilkan, sebagus apapun ceritanya, tidak akan bisa dinikmati dengan nyaman oleh anak, manakala penutur atau pendongeng tidak bersikap santai. 

  • Gunakan properti pendukung seperti buku cerita, boneka tangan atau gambar menarik. 

Sumber: Pelatihan Akbar Guru PAUD bersana IHF, Cianjur 31 Juli 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar