Rabu, 01 November 2017

Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

Pada level ini, Saya kembali menemukan siklus Learn-Unlearn-ReLearn dalam memahami kreativitas. Lucunya, Saya justru mengeksplorasi hal lain terlebih dahulu. Seperti gagal fokus, namun itulah proses kreatif dalam mempelajari kreativitas. Ibu Septi, kali ini tidak memberikan Materi seperti biasanya. Namun memberikan sebuah ebook karya kreshna aditya mengenai kreativitas dan beberapa potongaan slide yang unpredictable. Dan kami diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi topik kreativitas. Ya.. materi kreativitas memerlukan cara yang kreatif, tidak bisa menggunakan cara sama seperti yang dilakukan pada level 1 s.d 8 Kuliah Bunda Sayang IIP.




Setelah menyampaikan ebook sebagai referensi, Ibu Septi meminta Kami membuat definisi mengenai kreativitas. Dan… tidak berapa lama, muncul beragam pendapat definisi kreativitas, dan mengarah pada satu istilah yang sudah akrab didengar, Think out of the box. Tapi saat itu juga saya teringat dengan sesi Gamification bersama Eko Nugroho, Founder Kummara Game Studio (PERAK, 2017). Saat itulah kali pertama mendengar pernyataan There is no box, yang benar-benar meyakinkan. Seakan-akan langsung tercerahkan..
Iya yaa.. mengapa menjadi kreatif itu seakan-akan harus membuka box yang mengurung kita, dan kuncinya amat sulit dipecahkan. Padahal selama ini box yang mengurung pikiran kita itu tidak ada. Hey! The only reality is your perception (Septi Peni).


Jadi, mindset kita supaya kembali kreatif harus di reinstall.. Karena kita semua terlahir kreatif. Mari reinstall dengan Blackhawk Way yang saya temukan saat proses eksplorasi.


Lho.. kenapa jadi membicarakan Blackhawk Way? Karena Saya menemukan bahwa kata-kata
“Don’t think out side the box. Think like there is no box.”
berasal dari Founder Blackhawk Partners, Ziad K. Albernour. Beliau adalah seorang Penulis, Pengusaha, Ekonom, Konsultan investasi, finansial yang menjalankan perusahaannya dengan cara yang kreatif.
Dari profil perusahaan dan kumpulan Quotes resminya di Goodreads, Ziad K. Albernour juga menunjukkan sudut pandangnya yang berbeda. Dia benar-benar kreatif.
“I tried to be normal once... worst two minutes of my life.” (Ziad K. Albernour)
Saya suka dengan kata-katanya tersebut. Ya! Orang kreatif selalu bangga dengan keunikan dirinya sendiri. Menjadi normal seperti kebanyakan orang artinya membatasi kemampuan diri dengan membuat standarisasi kemampuan personal. Jadi.. Blackhawk way adalah membebaskan diri kita dari persepsi bahwa ada kotak yang membatasi kita. Karena kotak itu tidak pernah ada. Bebaskan pikiranmu!


Baiklah, mungkin Ziad K. Albernour memang sudah berada di zona kreativitas tingkat tinggi. Tapi bagaimana dengan Kita yang belum terbiasa? Sekali lagi.. pikiran kita belum terbebas dari box yang sebenarnya tak pernah ada.


Jadi, mari kita cari penyebabnya. Hal apa saja yang membuat kita mematikan kreativitas yang sejatinya sudah berada dalam diri setiap insan yang terlahir di dunia ini?


  • Lingkungan atau orang tua yang over protective, sehingga rasa ingin tahu anak dibatasi.
  • Merendahkan kemampuan anak, menganggap anak tidak mampu padahal tidak ada yang tidak mungkin.
  • Tidak mengizinkan anak untuk berbuat salah, sehingga ia tidak bisa mempelajari suatu hal secara mandiri. Dan kemudian ia takut untuk melakukan banyak hal, hanya karena takut dicap salah.
  • Orang tua terlalu mengkhawatirkan akan menjadi apa anak-anak di masa depannya nanti, namun melupakan bagaimana anak-anak saat ini.
“Often in life we forget the things we should remember and remember the things we should forget.” (Ziad. K. Albernour)
Kenangan dan nilai-nilai kehidupan apa saja yang sudah kita tanamkan pada anak-anak? Pertanyaan ini begitu menohok dan membuat diri ini perlu membuat refleksi mendalam.


Lalu setelah kita ketahui sebabnya, membuat refleksi mendalam, tapi kita tidak juga merasa kreatif. Adakah solusi praktisnya? Tidak ada solusi praktis, semua butuh proses. Namun ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar bisa membangunkan kembali kreativitas yang sejatinya sudah ada dalam diri kita. Diantaranya:


  • Ubah Fokus, Geser sudut pandang kita.
Mengubah kebiasaan, menanamkan kebiasaan baru, keluar dari zona nyaman adalah cara supaya sudut pandang kita bisa berubah. Mulai dari hal sederhana. Jika kita biasa meng-copast tulisan dan membagikannya melalui Broadcast message.. Maka hentikan. Sebaliknya, kita mencari info sebanyak-banyaknya tentang tulisan tersebut, hingga kita bisa membuat opini sendiri yang objektif.
Atau yang lebih sederhana, jika kita biasa membuatkan sarapan yang sama untuk seluruh anggota keluarga setiap pagi, maka mulai sekarang.. ajak seluruh anggota keluarga untuk menentukan sarapannya sendiri dan membuatnya bersama-sama. Hey! Sarapan saja bisa menjadi hal baru bagi keluarga kita! Dan itu proses kreatif dalam hidup!


  • Don’t Assume
Mungkin ada yang menganggap bahwa membagikan Broadcast message adalah hal yang wajar dan normal. Coba kita pikir.. semua orang membagikan hal yang sama tanpa mengkaji ulang. Padahal manusia diciptakan lengkap dengan akal. Kemudian secara massive semuanya melakukan hal yang sama. Dan menimbulkan opini publik yang belum jelas kebenarannya. Apakah itu wajar untuk dilakukan oleh manusia yang berakal?
Atau ungkapan yang sering kita dengar juga, “Never judge a book by it’s cover.” Pernahkah kita melihat buku yang tampak tidak menarik design maupun judulnya. Dan kemudian kita terperangkap asumsi, bahwa buku itu tidak menarik, sehingga kita tidak mau membacanya. Padahal setelah ada orang yang membacanya, dan mendengar testimoninya, ternyata buku itu sangat menarik dan bagus untuk dibaca.
Atau kita melihat sebuah coretan anak kecil yang tampak tak berharga, namun ketika kita tanya pada sang anak, ternyata menyimpan berlembar-lembar cerita penuh imajinasi?

(Evelyn. 2017)
Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan buru-buru membuat pernyataan. Perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara CLEAR dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja-CLARIFY. (Slide Kreativitas, IIP, 2017)
  • Think like there is no box
Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan ia berpikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami. (Slide Kreativitas, IIP, 2017)
Kreativitas adalah rasa ingin tau disertai keberanian untuk mengeksplorasi pengalaman sehari-hari dan menciptakan sesuatu yang baru.
Proses Kreatif adalah menemukan inspirasi dari mana saja, mengeksplorasi, menciptakan, mengevaluasi, dan mengambil kembali inspirasi.



Proses kreatif bisa juga disederhanakan kembali menjadi tiga tahapan: Evolusi - Sintesis - Revolusi


Ya.. semua hal kreatif berawal dari eksplorasi pengalaman sehari-hari. Mendokumentasikan pengalaman sehari-hari, bisa menjadi awal dari proses kreatif seseorang. Tidak ada yang tahu akan menghasilkan apa! Tapi semua berawal dari mencoba meski hasil belum sempurna.
“There's no need to be perfect to inspire others. Let people get inspired by how you deal with your imperfections.” Ziad K. Albernour
Dan… Saya begitu menantikan kejutan apalagi yang akan hadir di kelas Bunda Sayang IIP. Jika Anda berpikir ini adalah yang disampaikan oleh Ibu Septi secara sistematis, maka Anda salah. Ini adalah hasil sementara dari proses mempelajari kreativitas di Kelas Bunda Sayang IIP. Lalu apa yang disampaikan di kelas Bunda Sayang? Anda akan tahu jika Anda sudah bergabung.. :D

Sumber Referensi:
Supartinah. Membangun Kreativitas Sesuai Fitrah. Ebook. 2016
Diskusi Kreativitas bersama Ibu Septi Peni Wulandani di Kelas Fasilitator Bunda Sayang Batch 1
Diskusi Gamification bersama Eko Kummara di PERAK 2017
Aditya, Kreshna. Menumbuhkan Kreativitas Anak Usia Dini. Slide Presentation. http://www.bincangedukasi.com/menjaga-anak-tetap-kreatif/
Champion Creatively Alive Children. Handout. Crayola. 2011
Manfaatin, Eva. Memahami Kreativitas Seni Anak Usia Dini. Makalah. Cianjur. 2017.
http://www.blackhawkpartners.com
https://www.goodreads.com/author/quotes/5318529.Ziad_K_Abdelnour


#ThinkCreative
#KuliahBundaSayang
#Institut Ibu Profesional

2 komentar: