Minggu, 12 Februari 2017

Setelah Kata Maaf

Ketika masih duduk di bangku SMA, Saya pernah mendapat kisah mengenai seorang Ayah dan Anaknya. 

Sang Ayah meminta anaknya untuk menancapkan 1 buah paku di pagar, ketika Anak itu melakukan kesalahan pada orang lain. Dan selama satu tahun, betapa banyak paku yang telah tertancap. 
Sang Ayah kemudian meminta anak itu mencabut 1 buah paku setiap kali anak itu melakukan kebaikan. Dan dalam setahun, telah banyak paku yang telah dicabut oleh anak itu. 
Sang Ayah berkata, "Nak... kau mungkin bisa memperbaik kesalahan dengan melakukan kebaikan. Namun lihatlah, paku yang sudah tertancap akan meninggalkan lubang yang dalam. Meski dicabut, lubang itu tidak serta merta hilang".

Mendengar kisah itu, Saya menyadari, bahwa berhubungan dengan manusia memang harus hati-hati. Setelah melakukan salah atau khilaf, Kita bisa minta maaf. Namun apakah luka karena salah dan khilaf  kita akan hilang begitu saja? Mungkin bisa disembuhkan tapi perlu usaha lebih.

seperti bikin origami burung; maaf memafkan tidak instant

Lubang pada pagar, bisa saja ditambal, dihaluskan permukaannya, lalu dicat ulang, sehingga pagar akan bersih dan cantik kembali. Perlu usaha ekstra. 

Di salah satu film animasi, "Brave", Saya menemukan bahwa untuk memperbaiki kesalahan benar-benar diperlukan perjuangan keras. Mungkin kesalahan teknis bisa diperbaiki, dengan catatan, emosi dan rasa tidak bercampur baur di sana. Tapi bagaimana dengan kesalahan yang menyentuh hingga ruang rasa?



Ketika ruang rasa tersentuh, biasanya akan ada dinding yang muncul... Akan ada ikatan yang terputus... Akan ada rasa percaya yang runtuh. Bagaimana cara memperbaikinya? Apakah hanya dengan sebuah kata maaf? Maaf yang tulus lho...

Hmm... jujur saja, bagi Saya yang hatinya tak sebening air, itu tidak mudah. Setelah orang lain menyinggung ruang rasa, dan minta maaf, apakah ikatan yang terputus itu akan kembali seperti semula? Tidak bukan? Apalagi jika orang lain itu tidak meminta maaf? Apakah kita mau dan sanggup untuk memaafkannya?

"Takdir bisa diubah. Jika sang putri bisa memperbaiki ikatan yang dirobek oleh keangkuhan"
- Brave Movie -

Sering ada yang berdalil, "Allah SWT maha pengampun, masa kita tidak mau memaafkan". Nah... justru kita manusia, maka diuji dengan yang namanya maaf-memaafkan. Karena Yang Maha Pengasih sudah tahu, manusia memiliki nafsu yang menghalanginya untuk ikhlas memaafkan dan cukup rendah hati untuk minta maaf. 

Namun setidaknya, yang Saya sadari, ketika berbuat salah, maka kita harus mengikis keangkuhan dan minta maaf dengan tulus. Setelah itu? Kita harus merajut kembali ikatan yang sempat rusak. Tidak hanya dengan berbuat baik... Namun berusaha untuk bersahabat kembali, dan menjadikan diri kita berarti bagi mereka yang kita sakiti. 

Lalu bagaimana jika kita yang disakiti? Aihhh ini lebih berat lagi. Apalagi kalau orang yang menyakiti kita adem ayem tanpa satu kata maaf. Ini perlu proses dan latihan. Kita harus menanamkan sugesti, kalau kita memaafkan, maka luka di hati kita justru akan sembuh lebih cepat. Karena dengan kita memaafkan dan mengikhlaskan, maka kebaikan akan mendekat pada kita. Jika orang yang menyakiti kita memilih untuk tidak merajut kembali ikatan, maka orang lain yang lebih baik akan hadir menjadi penggantinya.

Tidak mudah. Tapi... pilihan selalu ada. 

*jadi ingat betapa perjalanan rumah tangga penuh dengan proses maaf memaafkan... 

8 komentar:

  1. Kereeeeen..ingat ya bukan hoax. Aku suka tulisanmu wahai bunda Chika..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, teh rizka... Dan ku suka malu sendiri baca tulisanmu yang puitis...

      Hapus
  2. Memaafkan atau tidak, adalah pilihan. Tidak mudah, memang. Semua tentu akan kembali pada pribadi masing-masing. Karena kadar "sakit hati" hanya kita sendiri yang bisa merasakannya. Tetapi, bila akhirnya nanti diri kitalah yang justru akan terbelenggu penyakit hati, memaafkan menjadi pilihan yang lebih masuk akal, bukan?

    Salam kenal mba,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. pilhan yang masuk akal, tapi perlu hati yang lapang....
      salam kenal jugaa

      Hapus
  3. Hmmm...bunda ma'afkan aku belum nulis.
    Euuughh...

    BalasHapus
  4. Betapa banyak hikmah yg bisa diambil dari tulisan ini. LOVE!

    BalasHapus
  5. aku setuju. menikah itu artinya kita harus mempunyai hati yang lapang dan ikhlas. untuk memaklumi, mengerti dan memaafkan tentu saja.. <3

    BalasHapus