Selasa, 20 Juni 2017

Suara Anak Perpustakaan Ambu

Suara Anak adalah kegiatan untuk mengasah kreativitas, keberanian dan rasa percaya diri anak. DI kegiatan Suara Anak ini, anak boleh menampilkan apa saja. Bercerita mengenai hobi/pengalaman/project, bernyanyi, menari, bermain peran, atau apa saja. Yang terpenting, anak berusaha menampilkan sesuatu yang ia suka dan ia bisa. 

Saya mengenal kegiatan Suara Anak ketika mengikuti Fesper. Yaa... beda dengan event kreasi seni, di suara anak.. apa saja boleh ditampilkan. Jika anak lupa, atau ada yang tidak sesuai rencana pun, dibolehkan. Sama sekali tidak ada beban, tuntutan untuk sempurna, apalagi punishment. Hanya apresiasi. :)

Kemudian, bertepatan dengan musim samen atau pentas seni akhir tahun di sekolah. Anak-anak perpus ambu a.k.a Gank Perpus, inisiatif untuk menyelenggarakan acara serupa (tapi tak sama). Maka kami pun berdiskusi lalu menyelenggarakan event SAPA, Suara Anak Perpus Ambu.




Alhamdulillah, acaranya seru dan mendapat apresiasi positif. Acara SAPA ini diselenggarakan pada hari Minggu, 21 Mei 2017 di Garasi Perpustakaan Ambu. Acaranya berlangsung dari pukul 14.00 s.d 16.00 WIB. Berikut ini timeline acaranya:

  • Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an oleh Citra
  • Sambutan dari Uncle Ervin (Founder Perpus Ambu)
  • Mars Perpus Ambu
  • Suara Anak
  • Doorprize
  • Makan Bersama


Alhamdulillah, anak-anak bahagia bisa menampilkan suaranya, dan bisa botram di Perpus Ambu. Awalnya kami hanya menyiapkan snack dan ice stick untuk konsumsinya. Tapi ternyata, kita dapat kiriman ayam crispy...! Yuhuuu.... kita jadi botram dadakan, dan semuanya kenyang. 

Saya juga bersyukur, acara SAPA ini minim sampah. Iya, soalnya untuk konsumsi, kita tidak menggunakan plastik/kardus/stereofoam/air mineral. Pakai gelas dan piring plastik yang reusable. Dan, setelah acara makan selesai, setiap anak harus mencuci piring dan gelasnya masing-masing.
Tidak hanya itu, ruangan perpus yang dijadikan area suara anak juga dirapikan dan dibersihkan bersama-sama. 

Mengingat seru dan bahagianya mengadakan Suara Anak, menjadikan Saya tak sabar ingin mengadakan suara anak lagi. ^.^




Minggu, 07 Mei 2017

Project: Home Sweet Home

Sejak pertengahan bulan April, kami sekeluarga pindah rumah. Kepindahan rumah yang dinanti-nanti dan terwujud di waktu yang tak terduga. Iya... kami sudah berkali-kali meminta bantuan teman, untuk mencari rumah yang cocok. Ada yang kami batalkan, dan ternyata itu keputusan yang tepat. Ada juga yang deal, tapi tiba-tiba lost contact dengan pemiliknya. 

Rumah yang sekarang ini Kami tempati, sempat Saya lirik beberapa bulan lalu dan dalam hati berkata... "Enak ya... rumahnya. Tapi kapan... ya?



Hhaa.... dan tak menyangka bisa terwujud. :D

Jadi, setelah mendapat kesempatan untuk pindah rumah, prioritas Kami untuk menyiapkan tempat tinggal baru, berada di urutan teratas. Ya... padahal saat itu Kelas Bunda Sayang sudah masuk ke tantangan Level 4. Terus terang, Saya tidak bisa memutuskan untuk konsentrasi ke tantangan Level 4. Meskipun tantangannya adalah mengamati gaya belajar anak. Seharusnya bisa double project, tapi saat itu saya tidak bisa. 

Maka, Project Home Sweet Home kami kerjakan sama-sama. 
Pimpinan Project nya Saya.. 
Penanggung Jawab nya Ayah Nisrin. 
Dan Nisrin sebagai Pemimpin Bagian Packing.
Durasinya 1 bulan (9 April s,d 9 Mei 2017)

Sebelumnya Kami sudah mengurangi jumlah barang dan mengorganisirnya melalui Konmari Project. Nisrin juga sudah tahu prinsip-prinsipnya. Maka saya bisa langsung mendelegasikan Nisrin untuk memimpin packing. Dimulai dari Pakaian, Buku lalu Perlengkapan Dapur.

Ayah Nisrin tentunya bertanggung jawab soal pendanaan, teknisnya Saya yang atur. Namun begitu, Saya berusaha untuk mengatur keuangan sehari-hari dengan lebih ketat. Karena pindah rumah itu banyak investasi tak terduga dan perlu bebenah sana sini.

Datang ke sana, rumah masih belum nyaman. Anak-anak awalnya ragu... apakah bisa betah di tempat tinggal baru. Karena mereka anak-anak yang selama ini sangat betah berada di rumah (yang lama). Kirei juga rewel entah kenapa. Namun, kami mendiskusikan, bagaimana agar kami semua bisa betah. Tidak harus langsung betah, tapi bertahap. 

Akhirnya kami mulai dari membersihkan kamar mandi, menata kamar, menata perpustakaan (Perpustakaan Ambu untuk anak-anak kini ada di garasi rumah kami), halaman rumah dan menata kegiatan masak-masak di dapur.

Tidak mulus... karena... ada tantangan ketersediaan air yang harus dihadapi. Harus ngirit air, ngangkut air, nampung air hujan... Dan banyak kebiasaan baru juga yang harus dibangun. Seperti: berangkat ke sekolah (ke Qurratu'aini a.k.a rumah lama), masak (biasanya beli masakan/roti/cemilan jadi), cuci baju (handwash biasanya pakai mesin), bersih-bersih (dulu rumah 2 lantai bagi dua dengan sekolah, sekarang full 2 lantai hanya rumah), dan menyapu jalan depan rumah yang setiap hari meriah dengan daun yang berguguran. 

Seminggu pertama, badan rasanya remuk pegal-pegal... seminggu kedua, saya mulai kuat dengan ritmenya. Apalagi ketika weekday, dimana Ayah Nisrin beraktivitas di Bandung. Rasanya waktu berputar lebih cepat, dan saya disibukkan dengan rutinitas dan ritme yang belum teratur.

Alhamdulillah setelah hampir 1 bulan, anak-anak sudah menyatakan betah di rumah dan siap untuk terus mewujudkan home sweet home.

Yang sering terdengar dari mulut mereka adalah... "Sejak pindah rumah, kita rajin masak. Pagi masak, siang masak, malam masak. Mau sarapan, makan siang, ngemil bikin sendiri. Repot sihh.... tapi seru."

Kalau dari Ayah Nisrin, "Akhirnya Bunda merasakan jadi Ibu Rumah Tangga yang seutuhnya ya.."

Alhamdulillah Naik Kelas. Semoga bisa terus meningkat dan terus menebar kebaikan dan manfaat. 

#Level 3
#BundaSayang




Mengamati Gaya Belajar Anak

Kegiatan hari pertama adalah.. membuat mie tek tek bersama dengan teman-teman. Nisrin antusias dengan cara memasak mie yang tidak biasa. Bu Elis, menjadi pembimbingnya. Evelyn yang hobi sekali dengan kegiatan memasak, lebih antusias lagi. Kirei... sibuk memperhatikan sambil naik turun tangga. Dari kegiatan ini, terlihat jika Nisrin bisa menjadi pendengar yang baik. Sementara Evelyn banyak fokus pada instruksi cara membuat mie di kemasan mie instan. Kirei, karena memang fitrahnya lagi senang banyak gerak, ya... harus banyak gerak. 



Hari kedua, kegiatannya adalah membuat Pizza Roti. Sebelumnya kami pernah membuat Homemade Pizza. Kali ini dough nya diganti roti tawar. Nisrin memimpin kegiatan, sambil banyak menjelaskan pada evelyn cara-cara membuat pizza roti. Evelyn, mengoleskan saos tomat, menyiapkan sosis dan keju. Di kegiatan ini, Evelyn berkomentar dengan cara membandingkan Pizza di restoran, homemade pizza, dan yang ada di buku resep. Dia cukup detil menggambarkannya. Sementara Kirei, asyik mengoles dan menyusun topping, sambil sesekali ngemil keju. 

Anak-anak sangat menyukai kegiatan ini dan berhasil membuat snack sendiri. 


Kegiatan Hari ketiga adalah membuat Bubble Snake. Nisrin banyak sekali melontarkan kalimat-kalimat deskriptif. Sementara Evelyn berimajinasi dengan Bubble Snake. Dan bagi Kirei, ini merupakan sensory play yang seru. 



Hari keempat, Evelyn menunjukkan kalau ia sudah berani memanjat pohon sendiri. Pohon di depan rumah, memang sangat asyik untuk dipanjat. Bukan hanya Evelyn, Nisrin dan Kirei pun sangat suka memanjat pohon ini. Bedanya... Nisrin akan asyik menceritakan pengalaman, Evelyn akan berimajinasi dan Kirei antusias untuk bisa memanjat lebih tinggi. 


Hari kelima, kami mencoba membuat Risol. Anak-anak diajak membuka resep dan cara membuatnya. Evelyn... masih lebih fokus pada foto-foto di buku resep, Anak-anak menyiapkan wortel, keju dan tepung roti. Nisrin dan Evelyn bagian melapis risol dengan tepung roti. Kirei asyik mengaduk adonan sampai tumpah-tumpah. Messy Play. :D
Di sela-sela kegiatan ini... Nisrin mengulang cara membuat risol, sementara evelyn membayangkan berjualan risol. Hahahaha....


Kegiatan hari keenam adalah membuat mie kuah instant sendiri. Nisrin tidak banyak bicara. Justru Evelyn yang bertingkah seakan-akan ia yang paling tahu cara membuat mie. Ia menyatakan sudah paham, karena pernah membuat mie dan sudah lihat petunjuk di kemasan mie instant. 
Kirei, antusias mengaduk bumbu dan memetik daun ginseng sebagai pelengkap mie. 


Kegiatan hari ketujuh adalah membuat lampion, atau hiasan gantung. Nisrin jam terbang crafting nya sudah banyak melontarkan komentar, betapa lampion atau hiasan gantungnya begitu sederhana. :P Sementara Evelyn berkomentar imajinatif, "Seandainya lampionnya ada banyak... ada angin yang berhembus... atau diberi tambahan lonceng supaya ada bunyinya.". Kirei, setelah membuat ini, asyik mengayun-ayunkannya sambil berlari. 


Hari kedelapan, membuat cilok bersama teman-teman. Lagi-lagi, Nisrin secara seksama mengulang tahapan membuat cilok ketika kegiatan ini berlangsung. Sedangkan Evelyn fokus pada tugasnya dan sesekali berkomentar, seandainya ciloknya sudah jadi. Kirei mencoba untuk membuat cilok, namun begitu tangannya mulai lengket, ia memilih berhenti. Kami membuat 1/2 kg adonan cilok, dengan isi daging ayam, sosis dan nugget. Hasilnya? 1 mangkok saji besar terisi dengan homemade cilok. Dan anak-anak menghabiskannya dengan lahap. :D


Hari kesembilan, Kami membuat bola-bola tahu. Terinspirasi ketika anak-anak mendengar suara tukang tahu bulat, dan menirukannya. Aha! Kita bikin tahu bulat sendiri. Nisrin penasaran dengan cara membuatnya, dan langsung bertanya pada saya. Sementara Evelyn bertanya, "Ada di buku resep?". :D Sementara kirei, tetap asyik dengan mengaduk, dan membentuk adonan... (sensory play). Alhamdulillah, tahu bulatnya enak, disukai anak-anak. 


Hari kesepuluh, Kami memfasilitasi anak-anak perpus ambu untuk membuat lampion/hiasan gantung. Sementara itu, Nisrin mendampingi Evelyn untuk membuat buku cerita bergambar. 
Kirei asyik menggambar dan menggunting kertas crepe. 


Dari pengamatan tersebut, Saya menangkap bahwa Nisrin yang ketika balita cenderung visual learner, kini setelah pre teen ia cenderung ke auditory. Evelyn, meski penggunaan gadget nya minim dan waktu menonton tv hampir tidak ada, ia tetap cenderung ke visual learner. Dan.. Kirei, masih menunjukkan kecenderungan kinestetik.

Pada masa-masa pengamatan yang riweuh ini, Saya bersyukur karena terdapat perkembangan di intelectual curiosity anak-anak. Perkembangan emosinya juga lebih baik. Nisrin lebih ngemong adiknya, Evelyn yang seketika hilang rewelnya, dan Kirei yang mau dipisah kamar tidurnya. 

Harus lebih gigih lagi menjadi Bunda Cekatan, agar aplikasi Bunda sayang bisa optimal juga... *FAITO!!




Rabu, 26 April 2017

Pesta Gelembung Sabun

Dalam rangka membuat anak-anak betah di rumah.. (Karena Kami baru pindahan... ^.^), Saya membuat aneka kegiatan seru bareng anak-anak. Nah... Siang tadi, kami membuat Bubble Snake. :D


Seru banget.... Karena.gelembungnya bisa memanjang seperti ular... Dan bisa dipegang dan diremas remas. Nisrin menyebutnya bubble slime.. Meski tidak seperti slime sih...


Evelyn menyebutnya sebagai salju gelembung sabun. Karena memang bisa dilempar-lempar seperti ketika main lempar bola salju. :D

Setelah, puas main... Anak-anak main hujan-hujanan di halaman belakang, lalu mandi.


Karena bahan gelembungnya dibuat banyak, sore harinya Kami bisa mengajak anak gank perpus main juga.




Saya pikir... Si gelembung sabun ini tak akan memikat anak-anak kelas 6+. Ternyata salah.... Justru mereka sangat menikmati bermain gelembung, dan setuju untuk menganggapnya seperti salju. Hahahaha....



Ada seorang anak gank perpus yang biasa menemani adik balitanya main. Saya pikir, permainan seperti ini akan sangat disukai anak balita.. Jadi saya memintanya untuk mengajak adiknya main. Tapi ternyata... Dia memerlukan me time!

"Jangan ah... Biarin aja adik mah.. Mau mandi. Aku juga pengen bisa main sendiri.."

Mendengar itu, ada perasaan bahagia.. Karena bisa memfasilitasi anak-anak main, dan memberi kebahagiaan kecil bagi mereka. Dan sekaligus menjadi pengingat, bahwa Nisrin yang setiap hari menemani adik-adiknya juga perlu bermain tanpa adiknya. ^.^

Pesta gelembung sabun ini berakhir dengan jalan yang penuh gelembung. Tapi tak apa... Karena setelahnya, hujan menyapu gelembung-gelembung, dan menyisakan petrichor yang segar.

Oh iya.. Bubble Snake ini mudah sekali dibuatnya. Pertama, buat dulu peniup gelembungnya. Caranya:

  • Siapkan botol bekas minuman ringan, ukuran 1 liter dan kaos kaki. 
  • Potong 1/3 bagian bawah botol.
  • Regangkan kaos kaki hingga menutupi lubang botol yang baru dipotong tadi. 


Setelah itu... Kita buat larutan gelembungnya, ini bisa dibuat bermain gelembung yang besar juga..

Bahan:
6 cup air
1/2 cup detergen cair/cairan pencuci piring
1/2 cup tepung maizena
1/2 cup gula
2 sdm baking powder

Campurkan semua bahan berurutan sambil diaduk rata. Larutan gelembung.. Siap dimainkan...

Temani anak bermain selama 15 menit, setelah itu.... Anak-anak akan asyik main sendiri. Hehehe... Kita harus pintar membuat anak-anak sibuk main supaya bisa jadi bunda cekatan kan... (beberes, masak, cuci cuci... >.<)

selamat bermain... :D

Minggu, 09 April 2017

Portofolio Evelyn (Bagian 2)

Evelyn masih bersemangat untuk menuangkan ide spontannya. Hari Sabtu kemarin, Evelyn menyelesaikan rumah mainan buatannya. Lengkap dengan tempat tidur dan lemarinya.


Ia juga membuat paper craft dari kertas lipat, katanya... Itu adalah robot gantung. :D


Evelyn juga rajin sekali menggambar. Sebagian ia jadikan kado. Dan ini sebagian yang belum ia selesaikan.


#Day10
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP

Sabtu, 08 April 2017

Portofolio Evelyn

Hari Selasa, 4 April 2017, Evelyn mulai bisa bangun dari tempat tidur. Sejak hari itu juga, ia selalu berusaha untuk membuat aneka kreasi. Mulai dari gambar, boneka, sampai diorama. Saya tidak pernah memberi instruksi atau contoh. Evelyn adalah tipe anak yang spontan melakukan kreatifitas. Jadi, saya bebaskan ia untuk membuat apa saja dengan bahan dan perlengkapan yang ada. 


Sebelumnya saya menggabungkan portofolio gambar Nisrin dan Evelyn. Namun tiba-tiba Evelyn berkata.. "Aku mau map sendiri khusus gambar-gambar aku." Wahhh... dia inisiatif untuk menyusun portofolio milikinya sendiri,

Sedangkan untuk diorama, dan hasil karya 4 dimensi, sebagian akan disimpan di meja pajangan (Bekas menaruh mainan) atau difoto, dan dipajang hasil cetaknya. 

Namun, dengan melakukan projcet ini, ada hal yang terjadi:


  1. Kirei, jadi mati gaya atau usil. Dia ingin berkreasi, tapi hasilnya tak sesuai imajinasinya. Dan berujung tangisan. Atau, dia ingin main bersama Evelyn, tapi Evelyn khusyu' jadi dia mati gaya dan usil pada Evelyn. Dan berujung dengan tangisan keduanya. @.@
  2. Nisrin, tertarik dengan project nya Evelyn yang tentu dianggap mudah oleh Nisrin. Dia jadi merasa, kalau project Evelyn lebih mudah dan miliknya lebih sulit. Dampaknya, projectnya berjalan lamban. 

Mudah-mudahan saya bisa lebih antusias dan semangat dalam mendampingi mereka. Karenaa... itu dia. Anak-anak tidak pernah bosan untuk bebas belajar. Justru orang tua yang cenderung cepat bosan. Hhhaaa.... cepet-cepet istighfar Bunda...... >.<

#Day9
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP

Jumat, 07 April 2017

Siaran Radio Rumah Nisrin

Sepulang dari Perak, Nisrin mendapat feedback mengenai kekuatannya di bidang Story Telling. Saya sendiri belum memfasilitasi Nisrin untuk lebih mengekplorasi talent nya di bidang komunikasi. Saya sempat berbicara dengan Mba Ade, tentang sebaiknya Nisrin mendapat mentor yang tepat.

Mencari mentor memang gampang-gampang susah. Sempat bertemu orang yang kompeten dan bisa menjadi mentor Nisrin, namun jarak dan waktu membatasi gerak kami. Jadi sampai sekarang, Nisrin belum dibimbing secara khusus. 

Kemudian, Saya mendapat feedback supaya Nisrin tetap bersiap untuk bertemu dengan mentornya kelak. Entah siapa. Namun rumus dari Pak Dodik dan Bu Septi: Murid Siap, Guru Akan Datang dengan Sendirinya (Mestakung). Maka... untuk mempersiapkan Nisrin, maka saya mengusulkan pada Nisrin untuk mencoba siara radio. dan ternyata Nisrin cukup antusias.

Kenapa hanya cukup antusias? Kenapa Nisrin tidak sangat antusias?

Karena Nisrin jarang mendengarkan radio. Meskipun ia kerap bermain peran sebagai penyiar radio bersama adik-adiknya. Jadi ia belum mendapat gambaran, "apa sih enaknya jadi penyiar radio betulan?" Nisrin sudah pernah kunjungan ke Radio di Cianjur, dan melihat bagaimana mereka siaran. Sepertinya, Nisrin harus coba untuk melakukan kunjungan lagi. Insyaa Allah..

Meskipun baru di level "cukup antusias"...sekarang Nisrin sudah membuat draft Timelime Siaran dan sedang menyusun draft siaran perdananya. Kita akan mencoba siaran pada hari Rabu, 12 April 2017 Pukul 19.00 WIB. Rencananya, jika Nisrin nyaman dan enjoy dengan prosesnya, Nisrin akan siaran 2 minggu sekali.


Mudah-mudahan ini bisa menjadi proses belajar yang menyenangkan. Nantikan info selanjutnya yaa... ;)


#Day8
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP

Project: Memulihkan Kesehatan

Sepulang dari Perak, project Kami adalah memulihkan kesehatan. Karena, secara estafet kami sekeluarga sakit demam, batuk dan flu. Alhamdulillah.. Saya dan Kirei cukup mengkonsumsi Suplemen herbal, Propolis, Kurma, Madu dan Teh Jahe Wangi. Sedangkan Evelyn, Nisrin dan Ayahnya harus mengkonsumsi obat tambahan.


Evelyn yang tidak bisa makan selama beberapa hari, saya paksa untuk mengkonsumsi kurma, madu dan minyak zaitun. Karena... darimana asupan nutrisi tubuhnya jika ia tidak makan sama sekali? Alhamdulillah, meski dua hari pertama penuh drama.. sekarang dia sudah merasakan sendiri kalau minum herbal itu lebih enak dan aman. Jadi sekarang Evelyn sudah jarang terdengar batuk, dan tanpa dipaksa, ia mau minum aneka herbal.

Hari Selasa 4 April 2017, Nisrin dan Ayahnya pergi ke Subang. Bapak Tua (Kakek Nisrin) sakit. Saya membekali mereka obat-obatan dan minyak herbal untuk memijat. Alhamdulillah, sampai di Subang, ternyata Bapak Tua sudah sembuh. Tapi sepulang dari Subang, Nisrin dan Ayahnya yang sakit.

Kami membeli tambahan herbal lainnya. seperti minyak habbatus sauda, vco dan omega squa. Alhamdulillah.. Ayah Nisrin mulai fit, tinggal Nisrin. Tapi, karena ada anggota keluarga yang masih sakit. Maka konsumsi herbal dan suplemen kesehatan tidak dikurangi, Bukan apa-apa, khawatir drop atau tertular lagi.

Jadi, saya bertugas sebagai PJ Pemulihan Kesehatan, Ayah Nisrin sebagai penyedia herbal dan suplemen kesehatan. Setelah melakukan project ini, Nisrin sudah bisa minum soft gel ukuran besar. Evelyn tidak lagi menangis ketika minum obat. Dan Kirei semakin suka minum madu.

Semoga kami bisa terus menjaga kesehatan, supaya bisa "belanja ide kebaikan" dan belajar menebar kebaikan.

#Day7
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP


Kamis, 06 April 2017

Perak 2017, Hari Ketiga

Hal yang dinanti selain kelas-kelas dan forum Perak adalah... pakai kaos Perak!! :D
Karena, bagi Saya yang jarang membuat couple/family outfit, Kaos Perak adalah family outfit satu-satunya... Bahkan, foto keluarga yang paling ketje, hanya bisa didapatkan di Perak (LOL)

Di hari ketiga, ada sesi jalan-jalan ke kebun teh dan shooting video clip Ramadhan bersama Perak!! Tapiiii.... rute yang terlalu jauh, plus kondisi Kirei yang demam, membuat kami mundur santai di tengah perjalanan. Saya gendong Kirei, Ayah Nisrin gendong Evelyn. Nisrin bawa air minum. Alhamdulillah... olahraga banget yaaa...


Setelah ituu... ada sesi bagi-bagi kado. Kirei yang demam, tertidur pulas. Jadi, Saya dan Ayah Nisrin bergantian menjaganya. 

Nisrin tukar kado dengan anak Mba Ressy. Evelyn dengan family creator. Kirei tukar kado dengan Zia Batita (Karena ada 3 Zia). 

Untuk kado keluarga, kami bertukar kado dengan Omah X-Pressi. 

Alhamdulillah... anak-anak bahagia menerima kadonya. Kita juga dapat tambahan hadiah dompet cantik dari Mba Noor #DoyanDolan, kartu kwartet dari KPK, kreasi botol dari mba Farida, dan ikan tuna.... dari Path2Along Family.... ^.^

Setelah acara selesai, kami bergegas ikut foto bareng... Takut ketinggalan lagi, dan bergegas cari-cari mas Elan.. "Mas Elan... kami belum foto keluarga!!" wkwkwkwk.... maaf ya mas Elan, ini penting sekali. Karena ini foto keluarga yang istimewa. Hihihi...

Selesai acara, kami pamit dengan beberapa keluarga.. Pak Dodik dan Bu Septi. Juga mendapat wejangan supaya yakin kalau anak-anak adalah anak yang hebat, dan bisa jadi orang hebat. Aaamiin...

Hatur Nuhun Perak's Family.. kami pulang membawa banyak moment, ilmu, feedback dan hadiah. :D
Sampai jumpa tahun depan, di Malang. ^.^

Konmari project ini dimulai ketika Game Perak 2017 dimulai. Seharusnya, bulan ini seharusnya sudah sampai ke level 3. Oh iya.. bagi teman-teman yang belum tahu, Level 1 konmari adalah pakaian dan kain. Level 2 adalah buku dan kertas.
Level 3 adalah dapur.
Saya putuskan untuk mengajak anak-anak untuk melanjutkan ke level 3, dalam waktu 2 hari. Kenapa? Karena kami akan menuju Perak. Saya rasa rumah harus dalam keadaan rapi dan kondusif ketika ditinggalkan. Karena ketika kami pulang dari Perak, tentu memerlukan istirahat. Dan membawa ide-ide project lainnya. Jadi... Ini harus segera diselesaikan.

Anak-anak sebelumnya sudah berlatih kemandirian dalam mencuci bekas makannya masing-masing (Masih di tahap pembiasaan). Nisrin juga sudah terbiasa memasak nasi dan bantu menata perabotan dapur.

Jadi, ini saat yang tepat untuk menata kembali dapur kami.

Sore, pukul 16.30 anak-anak merapikan kembali kamar masing-masing. Kenapa? Karena di kamar anak-anak biasanya ada banyak peralatan dapur yang digunakan untuk bermain.. :P

Kemudian semua peralatan disimpan di pantry, dicuci dan dipisahkan mana yang sparkling joy.. Yang unsparkling joy dipisahkan.

Alhamdulillah... Pukul 18.00 WIB sudah selesai disortir, lantai juga sudah dipel oleh Evelyn dan Kirei. Kami bisa makan malam dengan hati gembira sambil menunggu kedatangan Ayah. :)

Sampai hari ini anak-anak dan saya sendiri semakin merasakan betapa menjaga kebersihan dan kerapihan rumah itu perlu usaha ekstra. Ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu diperbaiki terlebih dahulu jika ingin melampaui level konmari.

Misalnya, level 1 harus terbiasa meletakkan, memisahkan pakaian yang mau dicuci. Mencuci pakaian dalam sendiri. Menjemur, melipat dan menyetrika pakaian sendiri.

Level 2, terbiasa meletakkan kembali buku pada tempatnya. Memisahkan kertas-kertas gambar, struk belanja dll.

Level 3, harus terbiasa menyegerakan cuci piring, dan menyusun kembali strategi menu homemade food.

Masih banyak PR di level 3 ini, diantaranya adalah menyalurkan barang-barang dapur yang unsparkling joy dan mempercantik dapur. Mudah-mudahan besok bisa didelegasikan pada orang lain. Karena besok, kami harus mengerjakan project: Road to Perak, cheerful journey.


#Day6
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP


Minggu, 02 April 2017

Perak 2017, Hari Kedua

Di tulisan Perak 2017, Hari Pertama, saya menulis sebuah harapan:

"Insyaa Allah besok pagi, bisa ngobrol saja dengan teman-teman. Atau dengan Bu Septi dan Pak Dodik, jika mereka tidak sibuk..."

Cara mengungkapkan harapannya kurang tepat...  harusnya, 

"Insyaa Allah besok pagi, saya akan merapat pada Bu Septi dan Pak Dodik supaya bisa ngobrol tentang ........................."

Ya... semoga ini jadi pelajaran dan selanjutnya lebih baik dalam membuat do'a dan harapan.

Karena.... di hari kedua, nyatanya Saya baru bertemu Pak Dodik dan Bu Septi sebelum upacara minum teh. Mereka tampak sibuk, saya lebih sibuk lagi.... @.@

Bunda: survei tempat dan siapkan perlengkapan minum teh.
Ayah: nemenin kirei yang keukeuh pengen berenang
Nisrin: jagain Evelyn ketika berenang dan membantu Evelyn dress up.

Sesi upacara minum teh tetap bisa diadakan, tadinya ingin mengajak anak-anak untuk membuat teh jahe wangi dan menyiapkan meja minum teh sebagai Perak's family forum. Tapi... anak-anak masih asyik berenang. Di Rumah Kidang Kencana tidak ada dapurnya. Jadi...nyatanya, kami hanya membagikan teh jahe wangi dan resepnya saja... Hhhee.....
Pak Dodik sempat menambahkan mengenai bagaimana prosesi minum teh di jepang menjadi sesuatu yang istimewa. Iya... minum teh adalah hal biasa, namun bisa dikemas oleh orang Jepang sehingga menjadi sebuah event yang melegenda dan sakral. 

Awalnya Upacara Minum Teh Nisrin juga seperti itu, ada roles, rules yang diterapkan. Tapi yaa... jadinya gitu deh,...

Satu-satunya foto dimana bisa 1 frame dg Bu Septi dan Pak Dodik.. Fu fu fu.... 

Meski banyak kurangnya, setelah mengadakan kelas upacara minum teh (yang seadanya itu...) muncul motivasi supaya membesarkan tea time yang sudah menjadi identik dengan family forumnya Hs Family. :)

Setelah upacara minum teh, ada sesi gamification bareng mas Eko Nugroho dan KPK. Di sana, ada sharing mengenai bagaimana menerapkan gamification dalam family project. Mengenai gamification ini kita lewat dulu pembahasannya yaa., :D

Di hari itu, seharusnya kami mengumpulkan feedback dari keluarga lain. Tapi ya gitu... Kami cuma sempat ngobrol dengan mba noor Doyan Dolan, dan Kang Zaki Firdaus Ark. Selebihnya, kami mendengarkan, ngemil dan main sama anak-anak.

Malam hari, ada pentas seni dari Perak's Family. Alhamdulillah Nisrin juga berhasil membawakan Kisah Sekantung Kurma. Tadinya kirei juga mau ngasih tebak-tebakan, tapi ternyata dia memilih untuk duduk saja di pangkuan Bunda. Ya sudah...


Setiap malam, sebenarnya ada sesi Tacit Knowledge.. Pengen sih.. tapi kan anak-anak sudah ngantuk, dan kalau memaksakan, kondisi saya dan kirei yang agak demam bisa tambah parah.

Jadi.. kami melewatkan malam hari dengan cuddling tanpa ber-tacit knowledge. Dan kalian tahu? Di Perak ini waktu bergulir 3 kali lebih cepat dari biasanya. Jadi kok perasaan cuma main, makan, ngobrol, makan, ngobrol dan selimutan.. :D




#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP