Jumat, 24 Maret 2017

Road to Perak 2017, Berkemas

Perak 2017 hanya beberapa hari lagi!! Para peserta dari luar kota, banyak yang sudah dalam perjalanan. Hari ini kami mulai berkemas. Kenapa baru hari ini? Karena kemarin baru selesai beres-beres.. Jadi otomatis, pakaian yang jadi bawaan utama, juga baru siap dikemas. Ingin sekali rasanya, 1 orang bawa 1 tas miliknya masing-masing. Tapi harus sabar, mungkin menunggu hingga mereka berusia 8 tahun. 

Saya berusaha meminimalisir barang bawaan, supaya tidak repot di perjalanan. Dan... Inilah hasil efisiensi barang bawaan kali ini. 


Meski panitia meminta para peserta membawa beragam perlengkapan. Kami putuskan, cukup ini saja. Bismillah.. "Nak...kalau mau berenang, ganti baju dulu yaaa.. Jangan asal nyebur" :P

Nisrin sudah mengemas barangnya sendiri. Ia punya jadwal pakai baju dan list barang yang ia bawa. Saya hanya memberikan saran mengenai cara ia menyusunnya dalam tas. 

Evelyn, dia belum bisa mengatur jadwal pakai baju. Jadi saya usahakan, baju yang ia pakai sepasang atau setipe dengan Kirei. 

Anak-anak sejak awal mengamati cara saya menyiapkan barang bawaan. Evelyn kemudian berkomentar, "Jadi kalau mau melakukan perjalanan, kita harus buat rencana dulu... Buat daftar baju. Buat daftar acara... Biar nanti gak... Hah.. Aku ngapain? Hah aku pakai baju apa? Gitu ya?

Pada sesi berkemas hari ini, Kirei tidak banyak turut campur. Ia hanya berkomentar, "Jangan ketinggalan ya baju akunya." -.-"

Okay.. Hari ini kami sangat produktif dan semakin antusias menyambut Perak 2017. Mohon do'anya supaya perjalanan kami penuh keceriaan dan keberkahan. 

Sampai jumpa lagi besok... :)


Kamis, 23 Maret 2017

Konmari Project Level 3

Konmari project ini dimulai ketika Game Perak 2017 dimulai. Seharusnya, bulan ini seharusnya sudah sampai ke level 3. Oh iya.. bagi teman-teman yang belum tahu, Level 1 konmari adalah pakaian dan kain. Level 2 adalah buku dan kertas.
Level 3 adalah dapur.
Saya putuskan untuk mengajak anak-anak untuk melanjutkan ke level 3, dalam waktu 2 hari. Kenapa? Karena kami akan menuju Perak. Saya rasa rumah harus dalam keadaan rapi dan kondusif ketika ditinggalkan. Karena ketika kami pulang dari Perak, tentu memerlukan istirahat. Dan membawa ide-ide project lainnya. Jadi... Ini harus segera diselesaikan.

Anak-anak sebelumnya sudah berlatih kemandirian dalam mencuci bekas makannya masing-masing (Masih di tahap pembiasaan). Nisrin juga sudah terbiasa memasak nasi dan bantu menata perabotan dapur.

Jadi, ini saat yang tepat untuk menata kembali dapur kami.

Sore, pukul 16.30 anak-anak merapikan kembali kamar masing-masing. Kenapa? Karena di kamar anak-anak biasanya ada banyak peralatan dapur yang digunakan untuk bermain.. :P

Kemudian semua peralatan disimpan di pantry, dicuci dan dipisahkan mana yang sparkling joy.. Yang unsparkling joy dipisahkan.

Alhamdulillah... Pukul 18.00 WIB sudah selesai disortir, lantai juga sudah dipel oleh Evelyn dan Kirei. Kami bisa makan malam dengan hati gembira sambil menunggu kedatangan Ayah. :)

Sampai hari ini anak-anak dan saya sendiri semakin merasakan betapa menjaga kebersihan dan kerapihan rumah itu perlu usaha ekstra. Ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu diperbaiki terlebih dahulu jika ingin melampaui level konmari.

Misalnya, level 1 harus terbiasa meletakkan, memisahkan pakaian yang mau dicuci. Mencuci pakaian dalam sendiri. Menjemur, melipat dan menyetrika pakaian sendiri.

Level 2, terbiasa meletakkan kembali buku pada tempatnya. Memisahkan kertas-kertas gambar, struk belanja dll.

Level 3, harus terbiasa menyegerakan cuci piring, dan menyusun kembali strategi menu homemade food.

Masih banyak PR di level 3 ini, diantaranya adalah menyalurkan barang-barang dapur yang unsparkling joy dan mempercantik dapur. Mudah-mudahan besok bisa didelegasikan pada orang lain. Karena besok, kami harus mengerjakan project: Road to Perak, cheerful journey.






Sabtu, 18 Maret 2017

Solusi Itu Hadir di Sana

Materi #2 Melatih Kemandirian Kuliah Bunda Sayang sudah terlewati. Namun, sekali lagi... materi dan tantangan memang sudah terpenuhi, namun prakteknya belum usai. Justru baru dimulai. 

Saya yang masih belum mandiri, masih mengandalkan suami atau orang lain seakan berkaca ketika harus melatih kemandirian anak. Saya melatih anak supaya mandiri, bagaimana dengan diri saya sendiri? 



Banyak poin-poin kemandirian yang harus ditanmankan pada diri dan anak-anak Saya. Kadang timbul rasa pesimis, atau pikiran "sudahlah... nanti juga bisa sendiri". Padahal sebenarnya, bukan hasil yang menjadi tujuan utama. Tapi bagaimana kita melakukan prosesnya sebaik mungkin. Pembiasaan praktek kemandirian disertai komunikasi yang produktif. 

Ketika saya bertanya pada Ibu Septi, "Bu... bagaimana trik supaya dapat melatih poin-poin komunikasi produktif dan kemandirian sekaligus?"

Dan... again... pertanyaannya dijawab dengan pecutan untuk belajar dan mencari tahu sendiri triknya. Hehehe.... udah gak jaman, segala dikasih tahu. 


Dan, setelah mendapatkan review Tantangan 10 Hari, dan juga Materi #3.. Saya bisa mendapatkan jawaban atau solusinya. Psst... masih rahasia, karena Materi #3 belum dishare ke Kelas Bunda Sayang. ^.^

Dan ternyata, dengan solusi itu... bukan hanya 1-2 pulau yang terlewati, tapi bisa lebih. Insyaa Allah..
Dan, kini semakin merasakan, betapa kurikulum Institut Ibu Profesional sudah disusun oleh Ibu Septi dengan cermat dan teruji. Karena sudah sistematis dan sesuai dengan tantangan yang dihadapi oleh para Ibu.

Seperti yang disebutkan oleh salah satu koordinator Institut Ibu Profesional dari payakumbuh, "Di sinilah tempat Saya.."

Minggu, 12 Maret 2017

Dua Nama yang Tersisa

Anak era 90-an pasti pernah bermain tebak jumlah anak dengan cara menekan pergelangan tangan. Hahahha.... entah mengapa, itu jadi favorit. Dan entah mengapa, ketika hasilnya berbeda-beda, tetap penasaran melakukannya lagi dan lagi. 

2, 3, 5 adalah jumlah anak yang sering diramalkan melalui permainan di atas. Tidak dianggap serius. Tapi ketika duduk di bangku SMA, saya berkesempatan untuk mengenal buku impian. Dan di dalam buku impian itu, Saya harus menuliskan nama-nama anak impian Saya. Saat itu dengan yakinnya saya menuliskan 5 buah nama. Hehehe.... dan teman-teman cukup kaget melihat impian saya itu. Kelima nama itu adalah Nisrin, Ali, Evelyn, Iqbal dan Kirei. Yaa urutannya seperti itu. 



  1. Nisrin bisa diartikan sebagai mawar putih atau penolong, dan do'a saya semoga Nisrin bisa menjadi penolong saya di dunia dan akhirat. Aamiin...
  2. Ali, nama itu tidak perlu dijelaskan lagi, namanya diambil dari sosok yang luar biasa. Dan merupakan impian setiap perempuan untuk memiliki anak yang shaleh dan cerdas seperti Ali Karamallahu Wajha. Tapi awal kesukaan Saya terhadap nama Ali, bukan dari sosok Sahabat Ali. Tapi karena sejak kecil saya selalu membaca tokoh Ali dalam Majalah Aku Anak Saleh. Rasanya sosok Ali yang digambarkan di majalah itu pun, sudah cukup sempurna. Apalagi setelah mengenal sosok sahabat Ali. Saya semakin suka.
  3. Evelyn dalam bahasa Irish artinya Perempuan yang Hidup, dalam bahasa celtic artinya cahaya, dan pada suatu bahasa lainnya (lupa) artinya menyenangkan. 
  4. Iqbal, sama dengan Ali... Saya mengenal nama itu dari majalah Aku Anak Saleh, dan selalu suka dengan nama itu. Artinya juga bagus, makmur, kaya, beruntung... :)
  5. Kirei dalam bahasa jepang artinya cantik, indah. Seharusnya Kireina (adj), tapi jika digunakan sebagai ungkapan... maka hanya Kirei. Dan saya lebih suka dengan pelafalan Kirei saja. ^.^


Dari kelima nama tersebut, ketiga nama perempuan sudah dipakai oleh ketiga putri Saya. Yang tersisa adalah dua nama anak laki-laki. Saya tidak tahu, apakah akan dianugerahi anak laki-laki bernama Ali atau Iqbal. Jika memang sudah ditakdirkan, pasti akan tiba waktunya. 

Bagaimana jika dianugerahi anak perempuan lagi? Yaa... bismillahi walhamdulillah... Kami sudah punya tambahan stock nama... :D

Intinya... apapun nama yang dipilih, pasti mengandung do'a. Jadi yang terpenting nama tersebut adalah nama dengan arti/maksud/tujuan yang baik. Jadi tak masalah jika ingin mengambil nama dari bahasa apapun. 

Ps: Yaa... Saya menulis ini dengan penuh kepanikan, karena mendekati deadline #1minggu1cerita.. Hhhee.... 

Minggu, 05 Maret 2017

Melatih Kemandirian Hari ke-10

Minggu, 5 Maret 2017 anak-anak agak telat melakukan rutinitas pagi. Alasannya? Bundanya juga santai banget.. :D Tapi mereka mau melakukan rutinitas pagi, sebelum sarapan, dan mau bantu beres-beres rumah dan menyelesaikan laundry job. Karenaaa..... hari minggu, Ayahnya suka mengajak jalan-jalan dan makan di luar. 


Dari pagi sampai berangkat jalan-jalan terbilang sukses. Tapi ada yang Kami lupa. Evelyn jika datang ke tempat baru atau melakukan aktivitas di tempat yang berbeda, harus diberi relaksasi dan mood booster. Mood boosternya apa? Cemilan.

Nah... kemarin, ketika mencoba makan di cafe yang dikelola oleh teman SD Saya, M Garden Cafe, Kami langsung memesan dimsum dan makanan utama, dan menunda pesan Dessert. Alhasil Evelyn rewel. Meski dia tetap makan dan minum, tapi mood nya gak bagus. Dia jadi cemberut... sampai menghabiskan makanannya. Setelah makanan utamanya habis, mood dia mulai bagus, dan ngemil cemilan yang dipesan. Ayahnya mengajaknya main dan berdialog, supaya dia tidak bersikap rewel ketika diajak makan di luar. Kami bertanya, apa harusnya Kami pesan kue dulu? Dan iya menjawab "Iya!!! Aku harusnya makan kue dulu.." dengan sumringah. Kemudian kami memesan choco slice sebagai penutup... Dan... dia langsung ceria. *.*

Yang difoto kirei saja... Evelyn belum mood difoto.
Maksudnya sih supaya makan berat dulu... dessert nya dipesan nanti. Takut jadi gak mau makan berat. Tapi kami lupa, Evelyn suka sekali makan. Jadi tidak apa-apa kalau diberi makanan manis-manis dulu, yang penting dia ceria, setelah itu dia akan tetap makan makanan utama. Dan nyatanya, setelah makan, jalan-jalan... sampai rumah anak-anak minta makan spaghetti. Heuheu.... hebat deh. -.-"

Semoga ini jadi pengingat supaya kami bisa mengkondisikan mood anak-anak jika bepergian. 

Sabtu, 04 Maret 2017

Melatih Kemandirian Hari ke-9

Sabtu selalu menjadi hari "Good Housekeeping" :D Sibuk menyelesaikan Laundry, melipat baju, sampai masak-masak. Dan mood untuk masak biasanya hadir di hari Sabtu. Meskipun tidak ada kegiatan TK di hari Sabtu, anak-anak tetap Saya ingatkan untuk melakukan rutinitas pagi. Karena... mereka harus tetap sudah mandi jika mau sarapan.

Hasilnya, kami bisa menyelesaikan laundry, lipat baju, masak-masak, bikin dan bikin Roti Maryam.



Tidak ada aktivitas keluar rumah, karena ternyata ada murid yang datang untuk les. Anak-anak tidak keberatan, karena mereka juga jadi kedatangan teman bermain.

#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Jumat, 03 Maret 2017

Melatih Kemandirian Hari ke-8

Menjaga konsistensi supaya bisa melatih kemandirian itu ternyata....tidak lebih mudah dibandingkan tantangan komunikasi produktif. >.<

Mungkin karena ketika praktek melatih kemandirian, kita harus mengkombinasikan poin-poin komunikasi produktif. Jadi kalau tidak memakai komunikasi produktif, anak-anak malah melakukan diluar ekspektasi. Kurang tepat juga sih, memakai satu standar ekspektasi, harusnya lebih sabar hingga anak paham dan melakukan sesuatu atas kesadaran diri sendiri. *.*

Jum'at, 3 Maret 2017 anak-anak bisa terkondisikan untuk melakukan rutinitas pagi. Karena.... mereka tahu, kita akan jalan-jalan sambil singgah di masjid agung cianjur untuk shalat dhuha. Nisrin menyiapkan bekal Kirei dan Evelyn. Menawarkan mukena dan kerudung. Juga memastikan tas mana yang akan dipakai oleh Kirei.


Soal rutinitas pagi, bisa dibilang sukses. Tapi kemudian....

"Sendal Aku yang ungu manaa?!!! Aku maunya pakai sendal ungu!!!"

Ketika akan berangkat, sendal evelyn yang warna ungu tidak ada. Saya minta ia untuk cari di rak sepatu, jawabnya malah sambil teriak-teriak...

"Udah Aku caari!!!"

Kemudian saya minta Nisrin bantu cari di ruangan lain, barangkali Evelyn lupa menaruhnya ketika masuk lewat pintu samping. Sementara Saya mencari di lantai 2 dan membawa 2 pasang sepatu lain milik Evelyn.

"Eei... sendal ungunya gak ketemu, mungkin Eei lupa, simpannya di mana? Pakai sepatu lain aja. Nih... mau yang mana?"

"Aku maunya sendal ungu!!" teriaknya sambil menangis dan teriak-teriak.

Akhirnya Kami menunda pergi jalan-jalan pagi dan melakukan aktivitas lain. Saya jelaskan pada Evelyn, boleh marah dan kesal, boleh nangis, tapi tidak teriak-teriak. Bunda mau nemenin temen-temen belajar. 

Ternyata dia memilih untuk masuk ke kamar. Sementara Saya dan anak-anak kemudian tetap berangkat jalan-jalan tanpa Evelyn.

Singkat cerita, kami jalan-jalan, shalat dhuha dan makan siang di taman. Pulang ke rumah, Saya mengecek kondisi Evelyn. Dia sedang berkreasi dengan kertas-kertas bekas, seperti biasa. :D

"Eei lagi apa? Mau makan?"

"Mau...." jawabnya dengan tenang. 

Setelah disodori makan siang, barulah saya tanya apa yang dilakukan selama kami pergi, dan meminta ia untuk tidak mengulanginya. Hingga ini ditulis, maka Saya ingatkan untuk selalu menyimpan sepatu di tempatnya, supaya ia tidak bingung ketika akan pakai. 

#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Melatih Kemandirian Hari ke-7

Hari Kamis, 2 Maret 2017 anak-anak lebih mudah diajak melakukan rutinitas pagi. Kirei memerlukan sedikit kalimat penyemangat,

"Eh... hari ini Ayah pulang lho.. Kirei nanti cerita apa sama Ayah? Bisa mandi sendiri?" 
"Iyaaa... Aku bisa mandi dan pakai baju sendiri..."

Karena sudah tahu sebelum mandi harus beres-beres, malam harinya anak-anak tidak main di kamar atau membuat kamarnya berantakan. Karena tahu harus beres-beres kamar, mereka malah memilih tidur di kamar Bunda.

"Biarin atuh... kan Ayah gak ada, jadi kita ngumpul aja tidurnya.."

Heuheu.... jadilah mereka merapikan tempat tidurnya sama-sama. :D

Kemarin kami tiba-tiba memutuskan untuk main ke stasiun. Tidak bisa melihat kereta, karena jadwalnya sudah kelewat. Tapi anak-anak tetap antusias.


Nisrin langsung bergegas menyiapkan sandwich sebagai bekal makanan. Dia langsung mengatur supaya Kirei dan Evelyn mendapat tempat bekal yang sama, dan dimasukkan ke dalam tasnya masing-masing. Dia juga langsung inisiatif menawarkan kirei untuk pakai kerudung atau tidak. Saya senang melihatnya, karena Nisrin bisa menyiapkan keperluan dirinya dan adik-adik. :)

Kamis, 02 Maret 2017

Melatih Kemandirian Hari Ke-6

Setelah Hari ke-5, Saya ambil jeda dulu sebelum masuk hari ke-6. Rabu, 1 Maret 2017 Saya melatih kemandirian anak-anak dalam melakukan morning routines. Jadi... pagi-pagi anak-anak masih harus dicerewetin untuk: Shalat - Beresin Kamar - Mandi - Sarapan - Minum Vitamin. Dan kalau Bundanya gak cerewet, mereka akan santai aja.... kadang baca buku, atau langsung ambil kertas buat corat coret dan bikin-bikin, atau tetep tiduran. 
Pertama, Saya tempel poster daily routines di pintu kamar Evelyn, jadi mereka bisa ingat urutan kegiatan yang harus segera dilakukan. Biasanya mereka akan segera bergegas, ketika perutnya semakin lapar. Iya... soalnya mereka boleh sarapan kalau sudah mandi. 

Saya berusaha mempertahankan intonasi suara, tapi..... tetep aja ada nada tinggi yang keluar. Habisnya gemeessss....... bilangnya iya, tapi gak action juga. @.@ 

"Iya bunda.... aku cuma lihat ini.."
"Iya.... tungguu... aku mau cari itu..."
"Aku mau ditemenin di sini aaja!!"

Beres-beres juga sebenarnya bukan asal disuruh, tapi ditemenin. Tapi tetep ajaa.... bikin gemes lihatnya. Kirei kebagian beresin keranjang boneka sama menyusun bantal. Evelyn beresin tempat tidur, selimut dan sapu lantai. Nisrin bantu beresin mainan Evelyn dan kamarnya sendiri. Hasilnya? Nisrin udah lumayan oke... Kalau Evelyn, lantainya harus saya sapu lagi. Kirei? Yaa gitu deh... (Sabar...sabar... abaikan hasil, jalani proses dulu).


Evelyn kalau gak bareng Nisrin, mandinya masih belum bener, ada bagian-bagian yang kelewat. Jadi Evelyn harus mandi bareng Nisrin. Atau saya perhatikan, supaya urutannya benar dan tidak ada yang terlewat. Kirei juga sama, terlebih kirei. Tapi... kemarin Nisrin mau ambil alih urusan permandian adik-adiknya. Haaa.... yokatta!! :D

Setelah mandi, Kirei dan Evelyn akan tetap ribet dengan urusan baju. Kadang Evelyn akan merengek karena kancing bajunya susah untuk dimasukkan. Atau Kirei yang merajuk tak mau pakai baju sendiri. 

Setelah siap, mereka boleh sarapan. Sarapan juga suka heboh. Heboh dengan pilihan piring atau sendok. Padahal piring 3 bersaudara ini udah disamakan, tapi adaaa aja yang diributin. 

"Aku gak mau pakai sendok, maunya pakai garpu dan pisin."
"Aku juga maunya pakai garpu... tapi disuapin."

Biasanya saya langsung tegas (cenderung galak), harus makan sendiri, kalau ada yang dimau, harus ambil sendiri. Di sini saya sering lupa untuk mempertahankan intonasi. Soalnya gemes kan, udah siap, makanan udah di depan mata, mereka malah ngeributin pengen yang lain. Kadang Evelyn suka mahiwal, dia suka pengen beda sama kirei. Tapi kirei pengen sama dengan Evelyn. Dan itu jadi pemicu pertengkaran. Fiuhhhhh.... (ingat mindfulness chika....).

PR nya, saya harus segera pasang poster urutan mandi, urutan beres-beres kamar, dan poster komunikasi produktif, supaya banyak pengingat dan mengurangi kecerewetan. :D

Rabu, 01 Maret 2017

DIY Orange Candle

Hari Minggu kemarin, Saya dapat jeruk yang bagus, tentunya untuk sarapan buah. Sempat terpikir untuk praktek membuat cairan pembersih dari kulit jeruk, tapi perlu proses fermentasi. Ditambah, saya cukup puas dengan penggunaan larutan cuka + jeruk lemon sebagai pembersih serbaguna. Jadi kami mencari alternatif lain, Dan kemudian, saya menemukan tutorial orange candle.. Jadi kita coba bikin deh...

Kita bikin orange candle dari hari Minggu... belum bosen. :D
Bikinnya gampang banget. Pertama-tama, siapkan jeruknya. 


Belah kulit jeruk tanpa menembus bagian daging jeruk. 


Pisahkan bagian kulit dan daging jeruk dengan perlahan-lahan menggunakan sendok.


Ini baru terpisah 1 bagian kulit


Sekarang sudah dapat 2 bagian. Ada bagian kulit yang terdapat "sumbu", itu kita jadikan bagian bawah lilin. Yang tidak terdapat sumbu, kita jadikan penutupnya.


bagian penutup, kita lubangi. Bisa dibentuk apa saja, saya baru bisa bentuk lingkaran.
kalau mau dibentuk yang lain, harus menggunakan gunting kecil yang tajam. 
Ini pakai pisau, jadi kurang rapih.


Siapkan kapas, bisa ditipiskan dan dibuat memanjang


Lilitkan kapas di bagian sumbu kulit jeruk.


Tuangkan minyak secukupnya, semakin banyak semakin awet. 
saya cuma sedikit, karena sama anak-anak pasti dipegang dipindah-pindah.


Nyalakan lilinnya....


Letakkan bagian penutupnya. 


Kalau apinya masih kecil, sinarnya hanya tampak kuning... tapi lucu kan.... ^.^