Minggu, 20 Agustus 2017

3 Kegiatan yang Menggugah Semangat

Memasak sepertinya mulai menjadi aktivitas rutin yang menyenangkan bagi anak-anak. Tapi mereka tidak seantusias dulu, tidak ada binar-binar yang muncul. Bisa jadi binar-binar itu tak muncul karena makanan yam dimasak, itu-itu saja. Kurang inovasi. Jadi catatan penting nih..

Hari minggu ini, Ayahnya ingin membayar janji pada anak-anak untuk main ke taman. Maka pagi tadi, kami ke Taman Prawatasari untuk sekedar belanja kebutuhan pokok dan duduk-duduk sambil ngemil. 

Anak-anak begitu semangat, padahal Kami sering ke Taman Prawatasari. Iya.. Namanya anak-anak, pasti senang jika diajak main di taman.

Setelah asyik di taman, kami pulang, istirahat lalu menyiapkan kegiatan masak memasak lagi. Di sela-sela kegiatan memasak, Nisrin dan Evelyn tampak merencanakan sesuatu. Ternyata benar, mereka sedang merencanakan crafting menggunakan botol-botol bekas. 

Mereka berhasil membuat pengerjaan tahap awal. Dan.. Binar-binar di mata mereka, bisa tampak dengan jelas.

Di saat antusiasme mereka masih tinggi, Ayahnya menambahkan kejutan lainnya. Ayahnya membuka family forum, dan mencetuskan project "Perjalanan 2 1/2 Gulden" di bulan September. 

Di bulan September, Saya ada rencana untuk mengikuti kegiatan IIP Bandung, maka dari itu, harus direncanakan supaya kegiatan ke Bandung jadi lebih bermakna bagi kami sekeluarga.


Nisrin yang sangat gemar membuat perencanaan Event langsung gerak cepat. Ia membawa selembar kertas dan spidol. Ia langsung membuat mind map dan aneka check list. 

Woww.... Dan saya yang sedang tidak siap untuk brainstorming, jadi berasa diderek oleh kereta super cepat. 

Hari ini, ada 3 kegiatan yang bisa membuat anak berbinar-binar. Pertama kegiatan piknik ke taman, kedua Crafting, dan ketiga Merencanakan Event Project.

#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#Tantangan10Hari
#Level7

Sabtu, 19 Agustus 2017

Attracted to Paper

Hari Sabtu adalah hari masak-masak dan main sama Ayah. Pagi hari, Evelyn dan Nisrin sudah mengambil peran dalam kegiatan memasak. Evelyn memilih untuk memotong tempe, sementara Nisrin mengolah sayur bayam. Tidak seperti biasanya, Kirei hanya turut mengamati. Tapi keuntungannya adalah, proses memasak jadi cepat. 

Sayur bayam, tempe bacem, ayam goreng, lalab dan sambal dadak adalah menu yang sederhana dan cepat untuk dibuat. Alhamdulillah... perut kenyang, hati senang...

Hal ini penting sekali buat anak-anak, terutama Evelyn. Evelyn The Sensitive Child ini akan ceria dan produktif jika sudah makan nasi dan minum susu. Dan.. benar saja, setelah perutnya terpuaskan, dia mulai berkreasi.


Evelyn yang ceria, akan senang hati mengajak kirei untuk ikut berkreasi dengannya. Ia membuat kreasi kado untuk anak gank perpus yang berulang tahun sabtu ini. Kirei pun dengan antengnya mengikuti arahan Evelyn. Ini benar-benar hal yang "langka". Karena biasanya, selalu ada aksi perebutan diantara Kirei dan Evelyn. Tapi tidak kali ini. :D

Evelyn selalu tertarik dengan kreasi menggunakan kertas. Sejak usia 1 tahun, Evelyn sudah akrab dengan kegiatan menggunting kertas. (Portofolio Evelyn)

Saya tidak melakukan intervensi apapun ketika Evelyn berkreasi. Karena ia sudah punya imajinasi dan rencananya sendiri. 

Jika mood Evelyn sedang bagus, apapun hasilnya dia akan merasa bangga dan puas. Tapi... jika sedang kurang bagus, maka intervensi kecil saja bisa membuat ia sedih dan menghentikan kreasinya. 

Alhamdulillah... kreasi kadonya selesai dan dia puas dengan hasilnya. Meski lidah saya ini tak tahan untuk berkata, 

"Oh.. pakai kertas kado juga... kok tumben, biasanya mengguntingnya lebih rapi dari ini." (Jangan ditiru, lain kali harus lebih produktif lagi responnya.. >.<)

Untungnya Evelyn tidak tersinggung, dia malah tertawa kecil lalu berkata... 
"Hehehehe... habisnya aku bingung, ada rambut gajah kecil-kecil banget, nanti udah rapi-rapi tetep aja susah di bagian rambutnya. Ya udah aku gunting kaya begini aja."

Dan... tiba-tiba Saya ingat dengan doll house paper craft yang dibuat beberapa tahun lalu. Kala itu Evelyn baru berusia 2 tahun. Namun ia bisa menggunting sesuai pola, dan sangat berhati-hati karena ingin guntingannya rapi.



Mungkin seharusnya saya harus lebih sering memberikan aneka paper craft template pada Evelyn, dengan level yang semakin meningkat. Jadi kemampuannya bisa semakin terasah. 

Mudah-mudahan selanjutnya saya bisa lebih peka dan terencana, karena ketertarikan Evelyn pada paper craft ini memang sangat tinggi. Jadi akan amat disayangkan jika ia tidak diberi kesempatan untuk mengasah skill nya menjadi Excellent.

#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#Tantangan10Hari
#Level7
#KeluargaBintang

Jumat, 18 Agustus 2017

Respon Terhadap Perubahan dan Bermain

Pagi hari, anak-anak sudah menanti Ayahnya yang memberi kabar akan pulang di pagi hari. Anak-anak sangat senang, karena bisa di rumah bersama Ayahnya. Anak-anak juga senang, jika tidak harus pergi ke mana-mana di hari Jum'at. 

Terlebih lagi Nisrin. Dia biasanya sudah merencanakan kegiatan di rumah bersama adik-adiknya. Dan, ia bisa leluasa mengajak saya bermain. Ya… dia senang sekali jika bisa bermain dengan Bundanya.

Tapi ternyata ada yang tak terduga, Ayahnya tidak bisa sampai rumah di pagi hari. Dan kami harus ke sekolah Qurratu’Aini. Awalnya Nisrin tampak kecewa, bad mood. Lalu tiba-tiba setelah berpakaian dan berdiam diri di kamar, ia mendadak ceria. 

“Jum’at Jazzy libur ya bun? Jazzy ikut Bunda Rini gak hari ini?”

Saya langsung tersenyum. Nisrin selalu antusias jika bisa bertemu dengan saudaranya sekaligus sahabatnya ini, jazzy.

Sesampainya di Sekolah Qurratu’aini, Nisrin tampak semangat. Ia mendapati, Jazzy juga ada di sana. Dan itu artinya, ia bisa puas bermain dengan Jazzy. Ia langsung berbinar-binar mengajak Jazzy bercerita. Entah cerita apa lagi yang ia bagi dengan Jazzy. Nisrin punya deretan cerpen yang bisa ia dongengkan pada Jazzy dan Evelyn.  Dan sampai sekarang, saya belum pernah mendengar ceritanya secara utuh, selain dari Evelyn yang menceritakan ulang.

Jelas sekali, Nisrin berbinar-binar ketika bisa menceritakan cerita buatannya pada Jazzy atau Evelyn. Namun keseruan itu tidak berlangsung lama. Kondisi tubuh Jazzy yang kurang fit, membuat Jazzy bad mood dan tidak ingin bermain. Emosi tersebut menular pada Nisrin. Dia cemberut sejak siang, dan tidak tau harus melakukan apa.

Kemudian, Bunda Eva mengajak anak-anak untuk bermain matching card. Nisrin mulai ceria dan semangat. Meski dia sedikit kesal, karena ia dikalahkan oleh Kirei dalam permainan tersebut. :D

Kirei tipe kinestetik,
gayanya itu sering dilakukan juga saat sedang makan.. :D

Menang di permainan matching cards
Hebat... Kirei daya ingatnya kuat..
Hari ini, saya mengamati respon-respon anak-anak dalam menghadapi kejadian tak terduga. Banyak sekali PR yang harus saya jadikan perhatian. Diantaranya adalah fleksibilitas dan kemampuan anak-anak dalam menghadapi  sesuatu yang baru atau tak terduga. Dan.. materi level  #1  s.d #6 wajib saya ulang dan praktekkan lagi. Karena semuanya bergitu berkaitan dan terintegrasi.

Meski demikian, hari ini, saya bersyukur masih bisa menemukan binar-binar pada diri anak-anak ketika bermain matching card bersama-sama. Demikian… fitrah anak memang suka bermain. Kita juga kan? Ayo main sama Nisrin... ^.^

#KuliahBunSayIIP
#Bunda Sayang
#Tantangan10hari
#Level 7

#KeluargaBintang

Kamis, 17 Agustus 2017

Di Rumah, Matamu Berbinar-binar

Kaya wawasan, kaya gagasan, kaya aktivitas. Tahapan Fitrah Based Education ini dibahas terus menerus sejak Matrikulasi Ibu Profesional. Saat ini, Evelyn dan Kirei sedang ada pada tahapan memperkaya wawasan. Sementara Nisrin, sudah pada tahapan memperkaya gagasan. Terasa sekali perkembangan kebutuhannya, dan sesuai dengan tabel berikut ini:
Tahapan ini wajib dilalui, agar Fitrah anak terjaga, dan kita bisa menemukan sesuatu yang membuatnya berbinar-binar. Sesuatu yang ia sukai (Enjoy), secara gigih ia tekuni (Easy), dan tak mudah merasa puas dalam mempertajamnya (Excellent), dan suatu hari nanti ia bisa berkarya, berbagi dan memetik kerja kerasnya (Earn).

Pagi hari, Kirei dan Evelyn terbangun dengan rengekan khasnya. Saya mengajaknya untuk bangun dengan bantuan Talking Doll, Kirei langsung menyambut ajakan saya untuk berwudhu dan shalat bersama. Lain lagi dengan Evelyn, tubuhnya yang kurang fit membuat emosinya tidak stabil. Butuh beragam trik dan ajakan agar ia mau bangun dan mandi pagi. 

Pagi itu, Saya menemukan binar-binar di mata Kirei ketika wudhu dan shalat berjamaah. Itu membuat pagi Saya terasa penuh energi. 

Alhamdulillah, energi positif menular pada Nisrin. Ketika saya menantangnya, "Nisrin.. bisa buat sarapan untuk kita gak ya?" dan ternyata ia menyambutnya dengan antusias. "Aku bikin nasi goreng!"

Saya memberikan ruang bagi Nisrin untuk memasak sendiri. Tanpa didampingi saya, Evelyn atau Kirei. Dia membuat nasi goreng dengan mata yang berbinar-binar. 

"Nisrin senang masak?"
"Yaaa Aku senang aja bisa bebas masak sendiri."

Hoo.... anak pre-teen ini memang perlu lebih banyak ruang untuk melakukan kegiatan tanpa adik-adiknya. 

"Nisrin bakal jago masak nih.."
"Yaa... gak tau, aku lagi seneng aja."

Setelah memasak, Nisrin menyerahkan penyajian pada Evelyn. 

"Aku udah masak, giliran kamu yang hias dan susun di piring ya! Kamu kan senengnya berkreasi." ujar Nisrin pada Evelyn.

Nasi Goreng bikinan Nisrin, dihias oleh Evelyn
Dan benar saja, jika dibandingkan melakukan proses masak, Evelyn lebih berbinar-binar ketika menghias nasi goreng. Ia juga lebih antusias membuat compost art dibanding mengikuti proses masak-memasak. Aha! Satu petunjuk tentang Evelyn telah ditemukan.

Setelah nasi goreng tersaji cantik, kami makan bersama. Kirei pun dengan lahap menghabiskan nasi gorengnya. Setelah itu ia bersorak, "Hore.. aku duluan habis, aku cuci piring ya.."

Dia bergitu semangat mencuci piring. Bukan hanya piring bekasnya, tapi semua perlengkapan makan yang tidak mudah pecah, ia cuci. Meski membuat bajunya basah kuyup, tapi binar-binar di matanya membuat saya tersenyum bahagia.

Cuci piringnya semua yang gak pecah! Hebat...!!
Bertepatan dengan HUT RI ke-72, di Taman kompleks diadakan lomba khas 17 Agustus. Saya mengajak anak-anak untuk melihat dan berpartisipasi. Sampai di Taman, anak-anak bertemu dengan teman-temannya. Saya pikir, anak-anak akan antusias dan mau berpartisipasi. Tapi ternyata tidak, mereka hanya berkata, "Nonton saja bunda, penasaran."


Entah karena suasananya kurang nyaman, atau memang anak-anak sudah merasa cukup dengan perlombaan yang sebelumnya telah diadakan di sekolah Qurratu'aini. Saya tidak memaksa. namun saya memperhatikan, bahwa anak-anak nyaman ketika melihat teman-temannya berlomba. 

Tidak lama, kami memutuskan untuk meninggalkan area lomba dan pergi ke tempat lain. Setelah menyelesaikan keperluan di luar rumah, kami pulang.

Objek apa saja bisa menarik perhatiannya :D
Anak-anak langsung masuk ke kamar dan asyik mengobrol. Mereka senang berimajinasi dan bermain peran. Nisrin adalah sang penulis skenario, sementara Evelyn pengarah gaya atau sutradara. Kirei juga tidak mau kalah, ia meminta peran. Dan... mereka bermain dengan suka cita. :)

Alhamdulillah... hari ini Saya melihat mata anak-anak berbinar ketika melakukan aktivitas di rumah. 
Besok, harus lebih semangat memperkaya wawasan dan gagasan anak-anak. 

#tantangan10hari
#Level7
#KuliahBunSayIIP
#BintangKeluarga

Minggu, 13 Agustus 2017

Eksperimen Garam dan Es

Kirei sudah tahu fungsi freezer untuk apa. Dia juga menyadari, bahwa air bisa berubah jadi es, dan bentuknya menyesuaikan tempat dimana air itu berada. Suatu hari, Kirei mengeluarkan wadah stempel alfabet, dan mengambil plastik organizer stempel. Ia lalu minta izin, 

"Bun.. aku pinjem ininya ya... mau aku pakai bikin es. Jadi nanti esnya kaya uang koin."

waah... saya langsung takjub, eh, ternyata Kirei bisa membayangkan bentuk air yang akan dibekukan. Padahal selama ini cuma ada 1 cetakan es yg kubus, dan cetakan popsicle. 

Kirei juga senang sekali memainkan es batu, nah.. supaya eksplorasinya bertambah, kita melakukan eksperimen garam dan es.


Kami membuat es balok dengan ukuran cukup besar. Lalu menyiapkan larutan garam yang kental dan ditambah dengan sedikit pewarna. 

Kami membuat larutan garamnya berwarna, supaya bisa melihat arah cairannya mengalir, dan mengecek efek garam terhadap es. Dan ternyata... "Es yang dikasih garam, jadi mencair Bunda!!"



Kami mencoba mengaplikasikan larutan garam dengan berbagai cara, dengan botol squish, kuas, sendok dan juga ditaburi garam langsung. Efek dari larutan garam ini membuat es mencair dengan cepat, dan  meninggalkan bekas yang agak tajam. Berbeda lagi jika mencairkan es dengan air panas, hasilnya permukaan es jadi halus. 


Dalam proses menuangkan larutan garam dan garam, anak-anak juga melihat proses es menjadi retak. "Bunda kaya di film frozen! Ada garis retakan es yang muncul dan ada bunyinya!"


Setelah puas dengan eksperimen garam ini, anak-anak bergantian memecahkan es dengan palu. Mereka suka dengan sensasi es yang loncat kesana-kemari.

Saya sempat mencari tahu penjelasan ilmiah mengenai kenapa garam bisa mencairkan es. Dan ternyata, di luar negeri juga untuk kondisi tertentu garam digunakan untuk mencairkan salju di jalan.
Tapi sampai sekarang saya belum menyampaikannya secara ilmiah... :P
Nanti aja, biar kakeknya yang menjelaskan.

Dan.. dengan eksperimen ini, membuktikan bahwa ketika anak-anak melakukan eksplorasi, orang tuanya pun harus banyak belajar.

Senin, 31 Juli 2017

Aku Suka Berbagi

Sudah hal yang biasa terjadi, jika di hari Minggu ada pasar kaget yang meramaikan Taman Kota. Begitu juga di Cianjur, di Taman Prawatasari, selalu ramai dengan adanya pasar setiap hari minggu. Hapir setiap minggu kami ke sana, untuk berbelanja kebutuhan dapur. 
Kirei, sudah hafal makanan apa saja yang bisa dibeli di sana. Namun ada pesanan khusus, Evelyn pesan molen coklat 1 kotak (hanya untuk dirinya). :D

Pulang dari Taman Prawatasari, lengkap dengan aneka belanjaan. Kami langsung membongkar belanjaan. Evelyn yang sejak awal ingin menyantap 1 kotak molen sendirian, langsung mengambil bagiannya. 
Saya, Ayah Nisrin, Nisrin dan Kirei berbagi 1 kotak lainnya, untuk disantap bersama. 
Kami terus menunjukkan bahwa makan molen 1 kotak berempat itu cukup. Dan, setelah Evelyn makan beberapa molen, dia menyadari bahwa 1 kotak molen lebih dari cukup untuk dimakan bersama.
Kemudian, Evelyn menghitung molennya, dan ia memberikan setengahnya, dan dimasukkan ke kotak yang dipegang Kirei. Alhamdulillah... tak usah dipaksa untuk berbagi, bisa sadar sendiri. :D

...

Hari Minggu, juga diadakan lapak baca Perpus Ambu di Taman Kartini. Lokasinya hanya sekitar 200 m dari rumah. Kami membawa 5 lembar kertas A3, crayon dan pensil.
Setelah lapak baca digelar, Saya memotong kertas A3 menjadi 4 bagian, masing-masing berukuran A5. Evelyn memperhatikan dengan seksama. Oh... kertasnya kita cuma bawa 5, jadi supaya kebagian semua, kita bagi-bagi. Dibaginya jadi 4, karena kalau dibagi 2 jadinya kurang banyak ya?"
"Iya.. kalau dibagi 4, 1 kertas cukup untuk 4 orang. Ini kertasnya ada 5, kalau udah dibagi 4 semua, jadi ada berapa ya kertasnya?"
"Hmm... kalau 1 kertas jadi 4.. kalau 2, jadi... 8. Kalau 3....?? Ugh... jadi banyak!!" Hehehe... dia bingung hitungnya. 
"Ok.. tunggu sampai selesai yaa... nanti kita hitung sama-sama."

Dan.. dari kertas A3 kosong itu, Evelyn mengenal konsep perkalian, pembagian dan pecahan.
Apakah langsung menguasai? Saya tidak mengujinya, saya hanya memberinya stimulus melalui kegiatan yang sedang dilakukan.


"Bun.. temennya ada banyak.. paling 1 orang cuma dapat 1. Tapi ada yang boleh dapat 2."

Itu adalah kesimpulan yang diambil Evelyn setelah mengetahui ada 20 lembar kertas yang dihasilkan, namun ada 14 anak yang hadir. ^.^

Saat ada anak yang merasa kurang dengan 1 lembar kertas, Evelyn memperbolehkannya untuk mengambil kertas tambahan. 
"Sok aja ambil lagi kertasnya, aku kalau mau gambar lagi, kertasnya bisa dibalik."

...

Menjelang siang hari, Kirei merengek minta dibelikan roti. Untungnya ada pedagang roti keliling yang lewat. Kemudian, Saya membeli 4 tangkup roti isi selai dan meses.  

Saya memberikan masing-masing 1 tangkup roti untuk Kirei, dan Evelyn. Sedangkan 2 tangkup lagi dibagi pada anak-anak. 

"1 roti bisa dibagi 4 woyy!!!", anak yang belum kebagian protes.. :D

Dan ternyata setelah itu, Evelyn juga memilih untuk membagi rotinya untuk teman-teman. :)

Alhamdulillah... hari minggu kemarin, Evelyn belajar berbagi dengan adil pada orang lain. Mudah-mudahan Evelyn menjadi anak yang senang berbagi dan bersedekah. ^.^

#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#MathAroundUs
#GameLevel6

Minggu, 30 Juli 2017

DIY Mini Pinata

Benda-benda di sekitar kita, bisa dijadikan kegiatan untuk mengenalkan bangun datar dan bangun ruang. Untuk anak usia 1-3 tahun, bisa dikenalkan dengan aneka macam bangun datar. Misalnya, lingkaran, segitiga, segi empat, layang-layang. Ada lagunya juga lho...

Geometri
(Naik-naik ke Puncak Gunung)

Bangun, bangun geometri
Macam-macam bentuknya
2x

Segitiga, segi empat,
layang-layang, lingkaran
2x

Untuk pengenalannya, kita bisa membuat contoh aneka bidang datar. Kemudian menunjukkan objek nyata yang biasa dilihat anak sehari-hari. Misalnya ketika melihat piring, anak-anak akan mudah mengidentifikasi bahwa itu adalah lingkaran. kasur, buku, handuk adalah segi empat.

Untuk anak yang sudah mengenal bangun datar, bisa dikenalkan dengan bangun ruang. Seperti kubus, balok, prisma, limas dan tabung. 

Jadi ketika melihat kasur, bukan hanya bentuk dasarnya yang segi empat yang dikenalkan, tapi bentuk ruangnya juga. Anak-anak akan mudah mengidentifikasinya dengan kita menyediakan aneka balok, atau miniatur bangun ruang dari kertas atau pipe cleaner. 

Saya pernah mengajak Nisrin membuat kubus untuk membuat dadu, ternyata dia menyimak. Lalu ia menunjukkan caranya pada Evelyn. Dan kini ia juga bisa membuat kubus. Sekarang, kalau diajak sekedar membuat bangun ruang, kurang tertarik. Karena keseruannya kurang memikat. Nah.. kalau bangun ruangnya dimodifikasi? Seperti limas segi empat yang dimodifikasi menjadi mini pinata. Ini lebih menarik!


Akhirnya, saya mengajak anak-anak untuk membuat mini pinata. Template nya saya sediakan. Perakitannya dilakukan sendiri oleh anak-anak. 


Evelyn antusias, karena.. ia sudah paham ketika melihat template yang saya sediakan, ia melihat ada keunikan dari pola yang saya buat. Ia bisa membayangkan, dari template yang saya buat akan menjadi bentuk seperti apa. Padahal saya belum menunjukkan contohnya. 

Kami juga mengajak teman-teman lainnya untuk membuat Mini Pinata ini. Mereka tidak menganggap ini kegiatan belajar, tapi mereka menikmatinya sebagai kegiatan kreatif dengan bonus isian pinata berupa permen. :D

Selain permen, isiannya adalah bekas bungkus permen
 yg sudah digunting-gunting
Anak-anak mengerjakan Mini Pinata ini selama 1 jam, karena mereka harus membuat hiasannya sendiri juga. Tapi mereka puas. Karena setelah jadi, "Wow... ternyata Aku bisa bikin yang seperti ini."


Dan... mereka pun berandai-andai jika saja pinata nya berukuran besar, dengan isian penuh di dalamnya. Hahahha... lain kali aja yaa.... (Mikirin isiannya perlu budget berapa :P)

video

Nah, bagi teman-teman yang mau mencoba, bisa juga mendownload template nya. Ini hanya template Limas Segi Empat atau piramida yang diberi pola lubang di bagian dasarnya. Jadi.. saya rasa tidak perlu pakai tutorial step by step yaa... :P 

Semoga anak-anak suka.. ^.^

#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#Level6
#MathAroundUs

Jumat, 28 Juli 2017

Learn Math with Popsicle

Ada gak sih... anak yang gak doyan makan es? >.<
Kayaknya hampir semua doyan yaa... Kalaupun ada yang gak doyan, paling di urusan rasa aja. 
Misalnya ada yang tidak suka rasa durian atau yang terlalu manis. Kalau saya... semua rasa sepertinya akan tetap suka. :D


Bahkan, ketika hamil Nisrin, hampir  setiap hari saya makan es krim. Karena? Kalau minum susu mual, dan lemes banget kalau gak makan es krim.. :P Dan sampai sekarang pun, kita sering banget jajan es krim. Nah.. kalau kebiasaan ini dilanjutkan, sepertinya kurang ramah di dompet.

Akhirnya... Sejak punya 3 anak kecil ini... Saya sering mengajak anak-anak untuk membuat es sendiri di rumah. Biasanya kami membuat es dari buah-buahan. Tapi kami juga suka es berbahan dasar peuyeum atau kacang ijo. 

Anak-anak tidak pernah menolak membuat es, apalagi memakannya. Karena kegiatan ini disukai anak-anak, jadi kita bisa menggunakan kegiatan membuat es menjadi sarana belajar yang asyik untuk belajar matematika. 

Anak-anak belajar mengupas buah, memotong buah, menakar air, dan menghitung jumlah potongan buah yang akan dimasukkan sebagai variasi. 

"Kita perlu 600ml air, coba ditakar dulu airnya."
"Potongan buah yang dimasukkan ke wadah, masing-masing 5 potong yaa.."

Kirei juga belajar mengenal angka dari blender di rumah. Dan dia semangat menekan tombol blendernya sesuai angka yg disebutkan. (Semoga Blendernya tetap awet.. >.<)

Setelah es nya jadi, kami menghitung es yang dibuat, lalu bertanya pada anak-anak.. 

"setiap orang boleh makan berapa buah es ya?" Aha!! Ini termasuk belajar pembagian juga...

Atau bisa juga sambil memperkirakan waktu. 
"Ayo... kira-kira perlu berapa detik sampai esnya bisa dikeluarkan dari cetakan?"

Dan.. ketika esnya habis pun, kami masih bisa bermain dengan felt popsicle... Yuuhuu... seneng banget anaknya, kalau sudah menyangkut tema es.


Jadi inget, waktu nisrin masih balita pernah bikin lapbook yang ada template es krim nya, judulnya The Big Green Pocket Lapbook. Dan ia sama antusiasnya dengan kirei saat ini. 


Dan, setelah menulis pengalaman singkat ini, saya jadi kangen dengan masa balitanya Nisrin. Betapa waktu berlalu begitu cepat, dan masa bermain khusus anak-anak ternyata memang tak boleh terlewat. mari kita lebih serius lagi bermain dengan anak-anak. 

#MathAroundUs
#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#Level6

Menunggu Antrian Itu Seru

Di usia 2 tahun, ketertarikan Evelyn terhadap matematika sudah muncul. Bukan sekedar berhitung, tapi ia juga suka membagi, membandingkan dan membuat pola. Sekarang Evelyn sudah 6 tahun... Stimulus yang diberikan sudah sejauh apa? (Tamparan untuk diri sendiri ini.... Y_Y)

Padahal, sebenarnya menstimulus kecerdasan matematis ini bisa dilakukan setiap saat. Karena.. Matematika itu ada di sekitar kita setiap saat. Benarkah.. Iya! Dan hal ini dibahas di kelas Bunda Sayang IIP lho...

Setelah beberapa hari menjalani tantangan, kami menyadari bahwa menunggu antrian itu bisa menjadi hal yang seru bagi anak-anak. (Hm... tapi tergantung kondisi tempat juga sebenarnya..) Namun, setidaknya kita bisa membuat mereka tetap sibuk dan aktif, tidak sekedar menunggu antrian.

Contohnya, ketika Kami harus ke Bank. Evelyn kami ajak untuk mengenal angka ratusan melalui nomor antrian. Dan.. Dia suka! xoxo... Dia mengulang-ulang no antrian yang disebutkan satu per satu, lengkap dengan meniru suara dan intonasi yang dicontohkan si mesin antrian. :D


Kemudian, kami ajak Evelyn menghitung sofa yang ada. Menghitung sofa yang sedang diduduki, dan menghitung berapa sofa kosong yang tersisa. Dia bisa, dan dia suka! Alhamdulillah... Setelah itu, ia juga inisiatif menghitung aneka benda yang ada.


Kejadian serupa terjadi pula ketika kami harus datang ke kantor PDAM. Bedanya, kali ini Nisrin turut belajar melakukan transaksi keuangan. Ia belajar membayar tagihan PDAM, dan harusnya sekaligus belajar cara menghitung tarif air. Tapi baru kepikiran... LOL.. :P

Belajar itu bisa dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja... Kuncinya adalah.. mindfulness dan komunikasi produktif. Karena... sering kali kesempatan-kesempatan belajar itu hadir, namun terlewat karena Kita kurang peka terhadap situasi atau tidak menghadirkan perhatian penuh akan apa yang sedang menarik perhatian anak. 

Lalu bagaimana supaya mindfulness itu hadir, dan komunikasi produktifnya diterapkan? Belajar (Red: baca materi kuliah Bunda Sayang), Praktek, Apresiasi, Evaluasi, Praktek, Belajar dan terus Belajar. Capek? Iyaaaaa.... makanya harus belajar juga management waktu, supaya Energi dan waktu kita digunakan secara produktif. Ini belajar matematika juga ya...

#MathAroundus
#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#Level6

Selasa, 20 Juni 2017

Suara Anak Perpustakaan Ambu

Suara Anak adalah kegiatan untuk mengasah kreativitas, keberanian dan rasa percaya diri anak. DI kegiatan Suara Anak ini, anak boleh menampilkan apa saja. Bercerita mengenai hobi/pengalaman/project, bernyanyi, menari, bermain peran, atau apa saja. Yang terpenting, anak berusaha menampilkan sesuatu yang ia suka dan ia bisa. 

Saya mengenal kegiatan Suara Anak ketika mengikuti Fesper. Yaa... beda dengan event kreasi seni, di suara anak.. apa saja boleh ditampilkan. Jika anak lupa, atau ada yang tidak sesuai rencana pun, dibolehkan. Sama sekali tidak ada beban, tuntutan untuk sempurna, apalagi punishment. Hanya apresiasi. :)

Kemudian, bertepatan dengan musim samen atau pentas seni akhir tahun di sekolah. Anak-anak perpus ambu a.k.a Gank Perpus, inisiatif untuk menyelenggarakan acara serupa (tapi tak sama). Maka kami pun berdiskusi lalu menyelenggarakan event SAPA, Suara Anak Perpus Ambu.




Alhamdulillah, acaranya seru dan mendapat apresiasi positif. Acara SAPA ini diselenggarakan pada hari Minggu, 21 Mei 2017 di Garasi Perpustakaan Ambu. Acaranya berlangsung dari pukul 14.00 s.d 16.00 WIB. Berikut ini timeline acaranya:

  • Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an oleh Citra
  • Sambutan dari Uncle Ervin (Founder Perpus Ambu)
  • Mars Perpus Ambu
  • Suara Anak
  • Doorprize
  • Makan Bersama


Alhamdulillah, anak-anak bahagia bisa menampilkan suaranya, dan bisa botram di Perpus Ambu. Awalnya kami hanya menyiapkan snack dan ice stick untuk konsumsinya. Tapi ternyata, kita dapat kiriman ayam crispy...! Yuhuuu.... kita jadi botram dadakan, dan semuanya kenyang. 

Saya juga bersyukur, acara SAPA ini minim sampah. Iya, soalnya untuk konsumsi, kita tidak menggunakan plastik/kardus/stereofoam/air mineral. Pakai gelas dan piring plastik yang reusable. Dan, setelah acara makan selesai, setiap anak harus mencuci piring dan gelasnya masing-masing.
Tidak hanya itu, ruangan perpus yang dijadikan area suara anak juga dirapikan dan dibersihkan bersama-sama. 

Mengingat seru dan bahagianya mengadakan Suara Anak, menjadikan Saya tak sabar ingin mengadakan suara anak lagi. ^.^