Sabtu, 18 Februari 2017

Kuliah Bunda Sayang Komunikasi Produktif - Rasa Rujak Uleg

Sejak tanggal 23 Januari, perkuliahan kelas Bunda Sayang IIP dimulai. Materi pertama adalah Komunikasi Produktif. Istimewanya adalah, Saya menjadi Fasil sekaligus Peserta kelas Bunda Sayang. Rasanya seperti apa? Rujak Uleg. Kok Rujak Uleg? Iya, Seger... ada manis, asem, pedes, asin, gurih, sepet-sepet dan renyah. 


Awalnya berpikir kalau kelas ini memang akan berjalan santai... (jiwa malesnya masih ada :P). Karena 1 bulan hanya 1 materi. Beda dengan matrikulasi, 1 minggu 1 materi. Ternyata? Bagi peserta mungkin lumayan santai, tapi saya double job.. tugas sebagai peserta, ditambah sebagai fasil... Dan.. Saya juga mengambil amanah sebagai Head Of Bunda Sayang Facilitators... Ada kesan Saya expert dalam Bunda Sayang kah?

Dapat Name Card dari IIP, senang dan terharu.
Meski prakteknya masih belajar

Sumber motivasi ketika merasa banyak kekurangan sebagai Fasil

Seger.
Setelah jeda Matrikulasi, perlu mengupgrade ilmu parenting. Diamanahi 3 anak perempuan dengan tahapan usia yang cukup, membuat tantangan semakin cihuy.. Kelas BunSay dengan format yang sedikit berbeda dengan matrikulasi, benar-benar menjadi penyegaran.

Manis.
Bisa satu grup dengan teman-teman yang berfrekuensi positif, ditambah mendapat bimbingan langsung dari Ibu Septi. Manis banget kan....? Jadi punya banyak teman yang menyemangati dan mengingatkan. 

Asem.
Ketika kita mendapat ilmu, maka kita akan diuji, sejauh mana level yang mampu kita capai. Itu rasanya semangat untuk mengunyah ilmu, tapi ketika diicip langsung... ada yang membuat kita kaget. Karena ternyata ada rasa lain selain Manis. Harus berani dan tahan untuk mengecap rasa, hingga benar-benar ditelan.

Pedes.
Menjadi Fasil bukan berarti sudah khatam atau expert. Tapi mungkin sebagian peserta memiliki ekpektasi yang berbeda. Sehingga ketika Saya yang masih tersandung-sandung dalam komunikasi produktif, harus siap menelan krisan. Krisan dari peserta, suami, anak juga keluarga. Itu semua positif, dan membuat saya sadar akan letak kesalahan saya. Tapi tetep aja... pedes. 

Asin.
Segala macam kejadian hidup selalu ada bumbu-bumbu yang menyertai. Ketika mendapat materi komunikasi produktif dengan segala poin pentingnya, dan entah bagaimana... setiap harinya penuh dengan ujian atas itu semua. Kalau gak ada itu semua? Ya hambar.. Rujak aja perlu dikasih garam supaya pas rasanya. 

Gurih.
Ketika berhasil menghadapi tantangan sehari-hari dengan mempraktekkan komunikasi produktif, ada rasa sedap yang dirasa. Meski, berat... tapi ingin terus mempraktekkannya. Karena gurihnya pas, jadi bikin ketagihan. 

Sepet.
Menyadari bahwa ternyata diri ini masih banyak lupa, salah dan khilaf adalah kenyataan yang kurang terasa enak ketika dijalani. Tapi harus diakui dan ditelan. Supaya ke depannya bisa berubah jadi lebih baik lagi.

Renyah.
Rujak Uleg ada sensasi renyah, dari taburan kacang dan kerupuk sebagai pelengkap. Tantangan 10 Hari: Membuat Family Forum, membuat hubungan saya dengan suami semakin harmonis. Itu yang saya rasa. Pada anak-anak juga, bisa semakin tenang menghadapi tantangan parenting setiap harinya. Belum lulus praktek komunikasi produktif, tapi setiap harinya Kami jadi semakin akrab karena semakin sering melakukan family forum dan quality time.

Tantangan Family Forum, bersamaan dengan Cangkrukan HS

Yeay!! Padahal jarang-jarang upload fotonya. 

Masih ada 11 Materi menanti di depan mata. PR masih banyak. Rujak Uleg nya kita nikmati saja, supaya sedap supaya bermanfaat. 

Minggu, 12 Februari 2017

Setelah Kata Maaf

Ketika masih duduk di bangku SMA, Saya pernah mendapat kisah mengenai seorang Ayah dan Anaknya. 

Sang Ayah meminta anaknya untuk menancapkan 1 buah paku di pagar, ketika Anak itu melakukan kesalahan pada orang lain. Dan selama satu tahun, betapa banyak paku yang telah tertancap. 
Sang Ayah kemudian meminta anak itu mencabut 1 buah paku setiap kali anak itu melakukan kebaikan. Dan dalam setahun, telah banyak paku yang telah dicabut oleh anak itu. 
Sang Ayah berkata, "Nak... kau mungkin bisa memperbaik kesalahan dengan melakukan kebaikan. Namun lihatlah, paku yang sudah tertancap akan meninggalkan lubang yang dalam. Meski dicabut, lubang itu tidak serta merta hilang".

Mendengar kisah itu, Saya menyadari, bahwa berhubungan dengan manusia memang harus hati-hati. Setelah melakukan salah atau khilaf, Kita bisa minta maaf. Namun apakah luka karena salah dan khilaf  kita akan hilang begitu saja? Mungkin bisa disembuhkan tapi perlu usaha lebih.

seperti bikin origami burung; maaf memafkan tidak instant

Lubang pada pagar, bisa saja ditambal, dihaluskan permukaannya, lalu dicat ulang, sehingga pagar akan bersih dan cantik kembali. Perlu usaha ekstra. 

Di salah satu film animasi, "Brave", Saya menemukan bahwa untuk memperbaiki kesalahan benar-benar diperlukan perjuangan keras. Mungkin kesalahan teknis bisa diperbaiki, dengan catatan, emosi dan rasa tidak bercampur baur di sana. Tapi bagaimana dengan kesalahan yang menyentuh hingga ruang rasa?



Ketika ruang rasa tersentuh, biasanya akan ada dinding yang muncul... Akan ada ikatan yang terputus... Akan ada rasa percaya yang runtuh. Bagaimana cara memperbaikinya? Apakah hanya dengan sebuah kata maaf? Maaf yang tulus lho...

Hmm... jujur saja, bagi Saya yang hatinya tak sebening air, itu tidak mudah. Setelah orang lain menyinggung ruang rasa, dan minta maaf, apakah ikatan yang terputus itu akan kembali seperti semula? Tidak bukan? Apalagi jika orang lain itu tidak meminta maaf? Apakah kita mau dan sanggup untuk memaafkannya?

"Takdir bisa diubah. Jika sang putri bisa memperbaiki ikatan yang dirobek oleh keangkuhan"
- Brave Movie -

Sering ada yang berdalil, "Allah SWT maha pengampun, masa kita tidak mau memaafkan". Nah... justru kita manusia, maka diuji dengan yang namanya maaf-memaafkan. Karena Yang Maha Pengasih sudah tahu, manusia memiliki nafsu yang menghalanginya untuk ikhlas memaafkan dan cukup rendah hati untuk minta maaf. 

Namun setidaknya, yang Saya sadari, ketika berbuat salah, maka kita harus mengikis keangkuhan dan minta maaf dengan tulus. Setelah itu? Kita harus merajut kembali ikatan yang sempat rusak. Tidak hanya dengan berbuat baik... Namun berusaha untuk bersahabat kembali, dan menjadikan diri kita berarti bagi mereka yang kita sakiti. 

Lalu bagaimana jika kita yang disakiti? Aihhh ini lebih berat lagi. Apalagi kalau orang yang menyakiti kita adem ayem tanpa satu kata maaf. Ini perlu proses dan latihan. Kita harus menanamkan sugesti, kalau kita memaafkan, maka luka di hati kita justru akan sembuh lebih cepat. Karena dengan kita memaafkan dan mengikhlaskan, maka kebaikan akan mendekat pada kita. Jika orang yang menyakiti kita memilih untuk tidak merajut kembali ikatan, maka orang lain yang lebih baik akan hadir menjadi penggantinya.

Tidak mudah. Tapi... pilihan selalu ada. 

*jadi ingat betapa perjalanan rumah tangga penuh dengan proses maaf memaafkan... 

Kamis, 09 Februari 2017

Hari Ke-15 Tantangan Komunikasi Produktif

Hari Selasa kami sibuk mengemas LME Play Mat yang sudah selesai diproduksi. LME Play Mat ini, kartunya ada lebih dari 100 pcs yang masing-masing berbeda. Jadi... Kami harus memilah dan memastikan dalam 1 set terdapat kartu yang lengkap.


Kegiatan ini menjadi family forum yang bagus, dimana Kami sekeluarga ditambah Kakek, Nenek dan keponakan Saya ikut bergabung. Tantangannya? Ketika Kirei mau ikut berpartisipasi, dan dia rawan memindahkan satu kartu ke tempat yang lainnya. Heuheu... kalau sudah terpisha-pisah lalu tercampur lagi, itu sungguh bisa membuat pertahanan emosi menjadi goyah. Akhirnya Kirei tetap kebagian tugas melepas stiker, meski sebenarnya ia ingin menempel stikernya juga. Tapi dia mau ikut aturan. 

"Kirei kalau mau bantu yang ini, lepasin stikernya aja.. Tempelnya sama Bunda."

"Aku mau menempel juga,.."

"Boleh, tapi stiker yang lain."

"Mau yang ini."

"Berarti cuma lepasnya aja, tempelnya sama Bunda."

Evelyn yang sudah terampil, juga ingin ikut membantu, dia memisahkan item koin onh masing-masing menjadi 20 pcs. Jadi sekalian belajar matematika. Awalnya dia buat kelompok koin isi 20 pcs. Dia semangat, tapi ketika dia lengah, hitungannya jadi lupa dan berantakan. Kemudian, saya minta buat kelompok koin isi 10 pcs saja. Awalnya dia bingung, tapi setelah dijelaskan dan ditunjukkan, dia jadi paham, kalau 20 itu sama dengan 2 kelompok 10-an. Tapi sebelum dikemas, tetep aja dihitung lagi. Hihihihi...

Kegiatan sortir dan pengemasan ini berlangsung hingga tengah malam. Nisrin membantu Saya sampai selesai. Ayah juga, ikut menemani sambil ngopi-ngopi dan cerita tentang kisah, sejarah dan koin kuno pastinya. 

Dari kegiatan family forum ini, anak-anak belajar tentang alur kegiatan produksi. Sebuah produk yang dihasilkan memiliki proses yang panjang. Mulai dari perencanaan, desain, bikin sampel, uji coba, revisi, buat sampel lagi, edit lagi, produksi, sortir, quality check, sampai pengemasan. Dan... setelah alur yang begitu panjangnya, dan berusaha meminimalisir error pun, masih saja ada yang keliru. Aihh, namanya manusia tempatnya salah dan khilaf itu benar-benar yaa...

Mudah-mudahan kegiatan produksi LME Play Mat ini berkah... dan membawa kebaikan bagi yang membelinya juga. Aamiin....

#hari15
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP


Hari 15: Family Forum

Hari Ke-14 Tantangan Komunikasi Produktif

Kirei yang beranjak usia 3 tahun, sekarang semakin menunjukkan keinginannya. Dan biasanya, apa yang Evelyn pegang atau makan, pasti dia mau juga. Seringkali jika bermain bersama, akan ada jerit tangis keduanya. Penyebabnya sederhana, Kirei mengambil bagian Evelyn. Dialog yang sering muncul adalah...

"Itu kan punya Aku.... Aku udah pisahin buat Kirei.. Tapi Kireinya mau punya Aku juga..!!!", Evelyn kerap mengadu seperti itu.

"Aku juga mau yang ini... Aku maunya dua..", Kirei berargumen. ^.^

Yang terakhir kali Saya praktekkan, Saya menenangkan Evelyn dulu. Saya peluk, dan dengarkan aduannya. Kemudian Saya berusaha memahami kekesalannnya dan meminta ia bersabar dan tunggu di kamarnya. Responnya?

"Terserah Kirei!! Aku gak mau main sama Kirei lagi. Gak suka!!!" 

Kirei biasanya akan memluk erat benda yang direbutnya dan terus menangis. Kirei bisanya tak mau dipeluk jika ia masih kesal, Beda dengan Evelyn, 

"Kirei... sekarang kan kirei udah dapat dua, Kirei main sendiri."

"Tapi Aku mau main sama Eei..."

"Kalau mau main sama Eei, harus mau berbagi, kembalikan punya Eei ya..."

"Gak mau.... aku maunya dua..."

"Ya, berarti Kirei main di kamar bunda aja ya. Sok, duduk di sini sambil main."

"Gak mau..... Aku maunya dua."

"Iya berarti mainnya sendiri."

"Aku mau sama Eei..."

"Yuk, Bunda anter, ke kamar Eei, tapi kembalikan punya Eei. Mau?"

"I...yaaaa....." sambil nangis teriak-teriak.

Tapi setelah diajak mengembalikan barangnya, 

"Aku baik.... mau berbagi sama Eei... jangan rebut-rebut yaaa..." 

Hihihi.... tangis dan air matanya berhenti seketika. Dan mereka kembali main bersama.

(Evelyn dan Kirei. - Foto Lama -)

Kejadian seperti itu, hadir lebih dari 3 kali dalam sehari. Yang diperlukan adalah...kesadaran penuh, bisa mengelola emosi, suara dan intonasi. Fiuhhh.... parenting never seems easy.

#hari14
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Hari 13: Perpanjang Nalar

Selasa, 07 Februari 2017

Hari Ke-13 Tantangan Komunikasi Produktif

Evelyn beberapa bulan terakhir ini susah diajak main keluar. Dia lebih memilih menunggu di rumah daripada pergi-pergian. Padahal perginya gak jauh-jauh.. masih sekitar radius jelajah saya.

Tapi, hari Minggu kemarin, Evelyn wajib ikut, karena khawatir lama dan di rumah tidak ada Kakek Neneknya. Awalnya, susah.. sekali. Tapi setelah dibujuk, bahwa ini adalah pesta keluarga, mumpung Ayah ada di rumah. Akhirnya Evelyn mau ikut.

Kami sudah lama sekali tidak makan di restoran fast food. Biasanya memilih restoran atau tempat makan dengan menu sunda atau mie ayam. Tapi kemarin, kami memilih tempat makan yang merupakan seleranya anak-anak. Toh sebulan sekali juga enggak. Gak apa-apa ya.... ^.^


Evelyn yang doyan makan, langsung berbinar-binar... Dia tak menyangka akan makan di tempat yang istimewa baginya. Obrolan ini itu terjadi. Mengalir bergitu saja. Bahkan dari makan-makan ini, jadi muncul pembahasan fiqih muamalah. Pembahasan, mengenai restoran atau toko yang sesuai dengan syariat islam. Diantaranya adalah:

  1. Makanan yang dijual ditampilkan secara lengkap beserta harganya.
  2. Pembeli membayar terlebih dulu makanan sebelum dikonsumsi. 
  3. Bayar secara tunai... :D

Tentu saja bahasan fiqih muamalah tidak hanya itu yaa.. Itu yang bisa diambil sebagai pelajaran di restoran fast food kemarin.

Banyak warung makan yang membolehkan bayar setelah selesai makan, tapi ada baiknya jika kita tetap mendahulukan bayar sebelum makan. 

#hari13
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Hari 13: Family Forum Banget... ^.^

Minggu, 05 Februari 2017

Hari Ke-12 Tantangan Komunikasi Produktif

Pagi hari, ketika Ayah mau membeli Air Galon, Kirei merengek ingin ikut. Tidak bisa dialihkan, akhirnya Kami bertiga pergi beli air sama sama. Hahahaha.... kompak banget ya... Padahal pengennya bilang, "Aduh Kirei.. cuma beli air galon. Kan berat jadi kalau bareng-bareng malah lama (jalannya)." Tapi ada yang menggelitik... Mungkin bagi Kirei beli air galon itu istimewa, apalagi bareng Ayahnya yang lebih sering ada di Bandung. Oke... diturutin aja deh...

Setelah menyiapkan sarapan, Kirei malah gak bisa diam... Dia minta donat meses, tapi makannya gak bisa diem... Ihh... gemes banget, dia membuat lantai jadi meriah dengan meses yang berceceran. 
"Kirei... makannya sambil duduk. Itu lihat mesesnya pada jatuh..."

Siang hari, Saya mau keluar untuk membeli plastik untuk mengemas kartu LME. Kirei malah pengen ikut, tapi setelah dibujuk oleh Ayahnya, Kirei mau ditinggal.


Saya, Nisrin dan Evelyn menyusun Kartu LME yang baru selesai dicetak. Ada 100 jenis, jadi cukup bikin pusing. Tapi Alhamdulillah, Nisrin dan Evelyn menikmati kegiatan ini. Mereka senang sekaligus tidak menyangka, permainan yang awalnya dibuat untuk kegiatan sendiri, malah dipesan orang lain. Kirei, awalnya ikut-ikutan ingin menyusun kartu. Tapi dia malah bikin kartu yang sudah disusun jadi berantakan. 

"Kirei... Kirei menyusun kartunya di sini!" Y_Y agak tinggi nadanya, karena dia mainin kartunya di area yang bisa membuat kartu-kartu itu hilang.... Jadi saya panik. :(
"Kirei,,,, masukkan kartunya yang ini aja yaaa Yang udah Bunda siapin."
"Kirei... itu bagian Nisrin dan Evelyn, Kirei yang ini aja."

Cerewet banget...... Kemudian setelah membantu mengemas 3 set kartu, dia masuk ke kamar sambil membawa tablet. Tidak sampai 5 menit, Kirei sudah tertidur pulas. Aihhh... maaf ya, Bunda cerewet banget. 

Sore hari, Saya mau keluar lagi, karena ternyata plastiknya kurang, dan mau sekalian beli baso.EH, ternyata Kirei bangun dan pengen ikut. Kirei bisa jalan kaki sampai tempat yang dituju, tapi lamaaa..... Akhirnya malah Saya gendong setengah jalan.

"Kok aku digendong? Katanya udah besar gak boleh digendong..."
"Biar cepet!"

Huhuhu.... maaf yaa Bundanya gak konsisten.

Seperti yang sudah Saya sebutkan di #Hari11 Praktek Bunda Sayang memang harus dibarengi dengan Praktek Bunda Cekatan. Saya harus membuat egiatan gadag-gidig keluar rumah yang efektif dan efisien, supaya tidak keletihan. PR banget. @.@ 

Karena Saya lumayan capek, jam 17.00 Saya malah semakin tidak bisa mengatur emosi. Tapi untungnya ada Ayah yang bisa back up. Jadi, Kirei Saya serahkan pada Ayah saja... :P

Hari Sabtu ini bisa dibilang hari yang tidak berhasil dalam mempraktekkan Komunikasi Produktif pada Kirei. Tapi pada Nisrin dan Evelyn terbilang berhasil. Saya bisa mengajak Evelyn berkomunikasi ketika bertengkar dnegan Kirei. Dan bisa mengajak Nisrin kerja sama ketika menyusun kartu LME.


Kembali charge pikiran dan semangat positif, supaya hari #12 jadi lebih baik.

#hari12
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP


Hari Ke-11 Tantangan Komunikasi Produktif

Hari Jum'at, di TK ada jadwal bikin bola-bola coklat. Karena itu, Saya tidak menyiapkan cemilan manis untuk anak-anak. Tapi... sejak selesai sarapan, Kirei merengek terus minta cemilan. Berkali-kali saya mengalihkan perhatiannya. Berhasil, tapi tidak lama, dia ingat lagi dengan cemilan yang dia minta. Perlu ekstra energi untuk menahan supaya tidak emosi. Perlu ekstra mikir, untuk mengalihkan perhatian dia sampai waktu membuat bola-bola coklat tiba. 

Ketika membuat bola-bola coklat, dia cukup anteng.. Karena tahu itu akan menjadi cemilan istirahat. 
"Aku mau bumbuk sendiri. Kan aku udah besar.."
^.^

Setelah dibentuk dan diberi paper cup, bola-bola coklat dihitung dan dibagi ke sejumlah anak. Masing-masing mendapatkan 5 buah! Itu lebih dari cukup, karena makan 2 buah saja sudah kenyang karena manis dan legit.



Yang Saya amati, Kirei sedang senang ngemil manis-manis, meski sudah sarapan. Atau dia mencari perhatian Bunda, dengan cara merengek minta cemilan. Ini suka dilematis. Di sisi lain, saya ingin dia menahan diri untuk tidak ngemil sampai waktu snacking/istirahat. Tapi di sisi lain, saya juga tidak mau dia merengek ketika jadwal belajar TK. 

Kadang dia bisa dialihkan dengan kegiatan-kegiatan yang dia suka, tapi seringnya ia tetap minta ditemani melakukan kegiatan tersebut, dan Bundanya tak boleh memperhatikan  anak yang lain. Hmss.... Daya Konsentrasi Anak adalah Usia X 1 Menit. Jadi Kirei baru bisa fokus selama 3 menit. Jadi sebenarnya wajar, jika dia minta ini itu selama jam belajar TK hingga waktu istirahat (90 menit!). Praktek Bunda Sayang ini memang harus dibarengi dengan percepatan Bunda Cekatan... Hehehe.... Insyaa Allah Bisa.


#hari11
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Hari Ke-11: Menahan Emosi, Mengatur Intonasi dan Suara.

Jumat, 03 Februari 2017

Hitam Untuk #1minggu1cerita

Pagi hari, ketika menyiapkan sarapan untuk anak-anak, Saya melihat semut kecil-kecil yang biasanya tak pernah ada di sekitar pantry. Saya hanya membersihkan permukaan pantry tanpa memindahkan posisi barang-barang. Ketika sedang memanggang roti, tiba-tiba semutnya semakin banyak. Hoaa... kaget dan bikin ngabirigidig. Ternyata semut yang kecil-kecil itu bersarang di lubang kabel toaster kami. Padahal toaster kami seminggu lalu dipakai, dan dibersihkan. Kok semut malah bersarang di situ..?



Tapi ini bukan kali pertama, perabotan di rumah jadi sarang semut. Dan, biasanya, yang jadi incaran para semut adalah perabotan berwarna hitam. Mungkin mereka terbiasa tinggal di tempat gelap, dan mereka tidak bergantung pada cahaya untuk bisa bergerak, jadi mereka memilih tempat-tempat seperti perabotan saya yang berwarna hitam. Dan sebetulnya saya lebih suka perabotan warna putih. *kode untuk kepala rumah tangga (LOL)

Di grup #1minggu1cerita juga, tiba-tiba ada obrolan mengenai logo grup. Katanya logonya tampak gloomy. Kurang menarik karena warnanya didominasi hitam. Border dan tulisan abu-abu, yang sama dengan ... <90% Hitam. Hihihihi.... tetep aja hitam.


Padahal sebetulnya, warna hitam itu menurut saya tidak suram. Justru menggambarkan kekuatan. dominasi dan ruang yang luas. Meskipun ada pemaknaan lain di bidang psikologi dan pandangan masyarakat. Namun sejatinya... hitam tidak bermakna negatif.

Warna hitam tidak identik dengan gender. Hitam bukan warna primer, sekunder atau tersier. Hitam bisa menyatu dengan segala warna untuk menambah efek tebal, kuat atau lebih gelap. Hitam juga bisa membuat warna lain menjadi lebih muncul atau terlihat. Bisa dibilang, di bidang seni, hitam adalah warna yang paling kuat, sama seperti putih. Dan ternyata, para designer grafis atau advertising designer kerap menggunakan hitam dan putih untuk efek yang kuat pada karyanya.


Di bidang martial art, hitam juga menunjukkan level yang tinggi dari suatu pencapaian. Di islam, warna hitam (dan putih) juga digunakan. Seperti pada Bendera, Panji dan Turban Rasulullah. Jadi tak ada salahnya menggunakan hitam dalam suatu simbol atau logo.

Jadi... apakah menurutmu logo #1minggu1cerita perlu diganti menjadi lebih colourful? Aihhh untuk saat ini sepertinya tidak perlu. karena logo saat ini, seperti yang sudah saya jelaskan di atas sudah menggambarkan bahwa komunitas ini:
  1. Netral
  2. Memberikan ruang yang luas bagi anggota komunitas untuk berkarya dan chatting... :P
  3. Memberikan efek yang kuat, dalam hal menulis atau blogging tentunya
  4. Sederhana. Iya... komunitas ini hanya ingin memotivasi teman-teman untuk menuliskan cerita dengan konsisten. Hingga muncul tagline... "Menulislah Walau #1minggu1cerita". 
  5. Timeless
Aduh.... targetnya masa sih cuma nulis 1 cerita doang selama 1 minggu. Apa gak kurang visioner? Heuheu.... mangga.... kalau teman-teman punya Visi yang lebih hebring, masukkan ke dalam visi hidup saja. Dan tetap tergabung di #1minggu1cerita. Percaya deh... 1 kepakan sayap kupu-kupu saja bisa mempengaruhi iklim dunia. 1 tulisanmu setiap minggu? Semoga kelak bisa bermanfaat juga... ;)

Masih keukeuh itu logo harus diganti...? Iya boleh, kalau kamu seorang ahli di bidang desain grafis dan advertising yang mau membuatkan logo yang lebih powerful dalam membawa branding #1minggu1cerita. Dan satu lagi.... jangan minta bayaran. (LOL)

Disclaimer: Ini adalah deskripsi dan pendapat saya pribadi, sebagai salah seorang admin #1minggu1cerita tentunya... :P


Hari ke- 10 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Kemarin cuaca cukup bersahabat. Meski hujan rintik menyirami pagi, matahari tetap memberikan kehangatannya hingga sore hari. :)

Setelah menyelesaikan makan siang, beres-beres dan menulis setoran hari ke-9. Saya mengajak Nisrin untuk bergegas menyiapkan perlengkapan crafting. Saya juga meminta Evelyn dan Kirei untuk merapikan mainannya. Tapi ternyata...

"Bunda Aku mau tunggu aja di rumah." Ujar Evelyn.

"Aku juga mau tunggu aja. Main sama Eei" Kirei juga ikut-ikutan.

Waah... gimana ini? Kalau Evelyn ditinggal di rumah, tidak khawatir (Red: Ada neneknya). Dia sudah bisa mandiri. Kalau Kirei? Kalau Kirei berantem sama Evelyn? Kalau tiba-tiba cari Bundanya? Pokoknya Saya belum percaya, kalau Kirei memilih untuk ditinggal. Hehehe.... 

"Kirei... Bunda agak lama pergi ke Perpus Ambunya. Kirei ikut aja ya."

"Enggak ah, Aku tunggu aja. Main sama Eei."

"Kalau gitu.... Kirei sama Eei mainnya di bawah, biar kelihatan sama Kia."

"Gak maaau!! Aku mau main di atas aja!!!" Evelyn langsung menolak dengan agak emosi.

"Kirei aja kalau gitu, kita mainnya di bawah."

"Enggak ah, Aku main di atas aja."

Hmmsss..... rasanya pengen cepet aja bawa mereka ke bawah. Tapi kalau dipaksa, pasti bakal nangis dan rungsing akhirnya.

"Ok, kalau gitu Evelyn... Bunda mau ngomong dulu sebentar.."

Saya mengajak Evelyn membuat komitmen.

"Selama Bunda pergi, Eei harus mengalah sama Kirei yaa... Supaya Kirei gak nangis dan rewel. Bisa?"

"Iya bisa."

"Kirei... kalau mau minum susu, susunya ada di kulkas yaa."

"Iya"

"Kalau mau pipis, bilang ke Kia."

"Iya"

Setelah komitmen itu, Saya memberanikan untuk meninggalkan Evelyn dan Kirei bersama neneknya. Tapi Saya memakaikan pospak pada Kirei. Khawatir Kirei lupa dan ngompol di tempat main. :P
Kemudian Kirei melepas Saya dan Nisrin di depan pintu rumah sambil melambaikan tangan. Aihhhh, kok dia tiba-tiba mau ditinggal. Hhha... Bundanya yang malah heran dan gak percaya. Kata Ibu Saya, itu artinya Kirei semakin paham kalau Bundanya ke luar bukan berarti meninggalkannya. Jadi tidak apa-apa ditinggal saja di rumah. 

Saya dan Nisrin jadi bisa pergi ke Perpus Ambu berdua saja. Bonusnya, Nisrin senang sekali, karena bisa pergi berdua saja dengan Bundanya. Quality Time bersama si Sulung. :D

Kami di Perpus Ambu selama 2 jam-an, melakukan kegiatan #RabuBikin2 yang tertunda dan baca buku. Pukul 16.30 kami pulang.



Sampai di rumah, Kirei sedang tidur. Evelyn langsung laporan,

"Bunda... tadi Kirei mainin kertas, terus tiba-tiba sobek, terus nangis deh... Bukan sama Aku..."

Hihihi... Defensif banget.

"Oh gitu, kertas apa sih? Ada-ada aja ya Kirei..."

Tidak lama, setelah menemani Evelyn makan, Kirei bangun. Sambil menangis tentunya... Tapi tidak lama. Kemudian makan cemilan sama-sama.

"Eh, udah mau maghrib, pipis dan wudhu dulu, setelah itu kita ke atas."

"Aku juga mau pipis..." Ujar Kirei.

Ternyata, selama ditinggal Kirei tidak ngompol.. Katanya Kirei turun dan bilang ke neneknya, kalau dia mau pipis.

"Kia aku teh mau pipis, tapi dipakein pempes sama Bunda, katanya takut akunya kebelet terus kewerweran... hehehe.... Bunda mah.. malah pakai pempess!!"

Hehehehe... iya maaf ya Kirei, Bundanya belum percaya kalau Kirei udah lama lulus toilet training, dan bisa bilang "mau pipis" ke orang lain selain Bunda. 

#hari10

#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Hari ke-9: Keep Information Short & Simple (KISS)




Kamis, 02 Februari 2017

Hari ke- 9 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Hari Rabu, seharusnya Kami mengunjungi Perpus Ambu untuk kegiatan #RabuBikin2. Tapi di hari Rabu, hujan tak juga reda hingga sore hari. Anak-anak sempat ptotes dan bertanya, "Kenapa Kita gak pergi ke Perpus sambil bawa payung aja?".

Ya... kalau hujannya cuma gerimis, masih dipertimbangkan untuk berangkat. Tapi kalau hujan deras ditambah angin kencang. Lebih baik tidak. Untuk menjelaskan hal ini saja perlu berkali-kali. Maksudnya, kondisi serupa beberapa kali terjadi, tapi kok masih ditanyakan juga? Begitu pikir saya. Tapi mungkin memang harus dijelaskan dengan cara yang berbeda.

"Nisrin, waktu itu Kita pernah ke Perpus Ambu, dan di tengah perjalanan hujan angin. Jadi kita lari-larian ke sana. Jadinya gimana?"

"Bajunya basah.. dingin."

"Iya, sekarang kalau kita ke sana... Dan hujannya tidak reda, sementara di sana Ambu atau Nenek gak ada. Gimana?"

"Hmms.... iya... tapi kan kita udah rencana ke sana."

"Iya, Bunda juga ngerti, Kita tunggu sampai jam 3 mudah-mudahan hujannya reda."

Dan.... ternyata hujan tak kunjung reda. Sekitar Pukul 16.30 baru mulai reda.

"Bun... hujannya udah reda."

"Sekarang jam berapa?"

"16.30."

"Kita kalau ke perpus ambu berapa menit? 30 menit. Berarti, sampai di sana jam berapa?"

"Jam.. 5."

"Kita harus pulang jam berapa?"

"Sebelum jam 6 udah sampai rumah. Yaa... berarti baru dateng udah langsung pulang lagi... Paling cuma simpan dan lihat buku."

"Iya... enaknya, kalau ke sana dari siang atau pagi-pagi."

"Hms.... ya udah deh. Jadi kapan dong?"

"Kita lihat besok ya..."

Kadang percakapan seperti ini inginnya dipersingkat saja. Tidak usah pakai tanya jawab. Tapi dipikir-pikir, ini termasuk cara untuk menggali Intellectual Curiosity nya juga. Belajar observasi dan merefleksikan pengalaman menjadi pelajaran. Jadi.... harus terus memupuk kesabaran.

#hari9
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Hari ke-9: Gantilah Nasihat Menjadi Refleksi Pengalaman, Pernyataan Observasi.