Senin, 20 November 2017

Membuat Kerajinan dari Sampah Plastik

Setiap rumah tangga pasti menghasilkan sampah rumah tangga. Biasanya sampah rumah tangga, dipindahkan ke oleh petugas kebersihan, dari TPS ke TPA. Lalu bagaimana nasib sampah-sampah tersebut?

Di beberapa kota, sudah ada tempat pemgelolaan sampah terpadu. Tapi.. Jika sampahnya sudah campur aduk jadi satu, bagaimana mengolahnya ya?

Yup! Seharusnya sampah minimal dipisahkan dulu sejak awal. Organik, Non Organik. Sebaiknya, mulailah mengelola sampah organik di rumah. Kenapa? Karena jumlah sampah organik itu sekitar 60% dari total sampah yang dihasilkan. Jadi, jika kita mengelola sampah organik dengan baik, berarti kita telah mengurangi jumlah timbunan sampah di TPS/TPA. 🙌

Selanjutnya adalah sampah plastik. Biasanya ini menjadi jenis sampah terbanyak di urutan ke-2. Bagaimana mengelolanya? Pertama, mengurangi jumlahnya dulu. Mengurangi konsumsi produk berkemasan plastik yang sekali pakai. Atau jika berkemasan plastik, maka pilih kemasan yang reusable atau bisa dimanfaatkan. Kemasan plastik sekali pakai ini ternyata bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, jika kita mau dan berusaha. 

Sabtu, 18 November 2017. Alfamart mengadakan Pelatihan Kerajinan Daur Ulamg sebagai bentuk kepedulian Alfamart terhadap masyarakat, khususnya perempuan.


Alfamart mengadakan program CSR bertemakan Pemberdayaan Perempuan secara Nasional dan dilaksanakan di berbagai kota. Seperti Cianjur, Cimahi Bandung dsb. 

Sebelumnya, Alfamart pernah mengadakan pelatihan membuat kerajinan berbahan koran di Kec. Nagrak Cianjur. Kali ini, Alfamart mengadakan pelatihan untuk membuat kerajinan berbentuk piring dan keranjang dari plastik bekas kemasan minuman gelas. 

Alfamart bermitra dengan Rumah Kreatif Naria Cianjur untuk memfasilitasi para Ibu mempelajari keterampilan baru ini. Saya benar-benar antusias, karena sampah bekas kemasan minuman gelas memang sering dihasilkan. Jadi, jika kita tahu cara pemanfaatannya, pasti akan sangat bermanfaat. 

Peserta pelatihan ini berasal dari beragam komunitas perempuan, seperti PKK, Wanita Tani, dan Taman Baca Masyarakat. Pada umumnya peserta belum pernah mempelajari cara memanfaatkan bekas kemasan minuman gelas ini, termasuk saya. 

Sebelum kegiatan pelatihan dimulai, Peserta yang hadir diajak untuk senam dan bergerak guna mengkondisikan konsentrasi. Seru!

Setelah itu, Ibu Leni dari Rumah Kreatif Naria memberikan pengarahan bagaimana cara membuat piring atau tas keranjang dari lingkaran yang ada di bekas kemasan minuman gelas. Ibu Leni ditemani oleh suaminya, Ibu Nyi Mas dan Ibu Nur Hasanah dari Saung Baca Cicadas Cianjur.


Alfamart sudah memfasilitasi bahan-bahan dan perlengkapannya. Alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu: Bekas kemasan minuman gelas (minimal 39 buah untuk membuat piring), Gunting, Cutter, Tali (Bisa tambang, rapia, wol atau dari kain perca) dan korek api.

Pertama-tama, kita harus memisahkan lingkaran dari bekas kemasan minuman gelas menggunakan gunting. Kemudian kita rapikan menggunakan cutter. 



Setelah terkumpul min. 39 buah lingkaran, kemudian kita anyam dengan menggunakan tali. Kemarin kami menggunakan tali tambang plastik berukuran kecil. Panjang tali yang dibutuhkan untuk membuat 1 anyaman piring adalah 5m.




Untuk membuat anyaman ini, ternyata tidak terlalu sulit. Meski awalnya perlu memahami pola jalinan tali dan susunan lingkaran. Tapi semua peserta berhasil mencobanya dan membuat sendiri anyaman piring/tas keranjang. 



Saya sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Alfamart ini. Bukan hanya ilmu dan keterampilan baru, tapi juga bertambahnya pertemanan dan jejaring komunitas. 


Para Ibu memang membutuhkan banyak pelatihan seperti ini. Selain untuk menambah keterampilan, para ibu juga bisa lebih produktif dan mandiri melalui keterampilan yang dimilikinya. Semoga komitmen Alfamart dalam memberikan kepedulian terhadap pemberdayaan perempuan bisa terus berkesinambungan dan bisa dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas. 

Yuk.. Kita belajar memanfaatkan sampah dan mengubahnya menjadi berkah. 😊






Sabtu, 18 November 2017

Jurnal Harian Evelyn

Beberapa hari ini, Evelyn semakin ekspresif dalam mengungkapkan kegiatannya sehari-hari. Melihat Nisrin yang rutin membuat jurnal harian dan cerpen, Evelyn juga kabita dan ingin membuat jurnal hariannya sendiri. 

"Nisrin.. Aku pengen nulis. Tolong kasih tau caranya."

Iya.. Evelyn belum lancar membaca dan menulis, jadi ia membutuhkan bantuan Nisrin atau Saya ketika ingin menuliskan sesuatu. Tapi setelah 1 kalimat ia tulis, biasanya akan berkata..

"Capek banget, yang harus ditulisnya banyak. Aku gambar aja lah ya..." 😂

Iya.. Evelyn pembelajar visual imajinatif. Berkali-kali ia ingin menulis, namun otaknya terus berimajinasi, sehingga perlu memvisualkannya dengan segera. 


Visualisasi di otaknya lebih cepat dibandingkan harus memproses tulisan/kata-kata. 

Maka pendekatannya harus dibalik. Biarkan ia menuangkan imajinasinya secara visual hingga kebutuhannya terpenuhi. Setelah itu, kami minta ia menceritakan gambat buatannya.

Setelah ia bercerita, kami menuliskan ulang yang ia ceritakan, lalu membacanya bersama. 

Setiap anak memang unik. Mengidentifikasi kebutuhannya, menyelami minatnya, agar bisa meninggikan gunung dan meratakan lembah. Jangan Terbalik!

#ThinkCreative
#CerdasLiterasi
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Kamis, 16 November 2017

Kupu-kupu Raksasa

Mei 2017, Kali pertama Kami menggelar acara Suara Anak Perpus Ambu di Garasi Rumah. Kala itu, Evelyn menyiapkan sebuah cerita yang ia tulis sendiri. Kupu-kupu Raksasa.

Sebelum tampil, Evelyn sudah berlatih bersama Nisrin, dan Nisrin pun berjanji akan menemani Evelyn ketika tampil. Namun hari itu.. Evelyn batal tampil. Ia tiba-tiba menangis ketika berada di depan teman-temannya. Nervous..

Selang beberapa bulan, tepatnya 12 November 2017. Kami mengadakan kembali event Suara Anak. Tak disangka, Evelyn memutuskan untuk tampil membawakan kisah Kupu-kupu Raksasa. Kali ini, ia berlatih lebih serius. 

Hari pertunjukan pun tiba. Evelyn bangun tepat waktu, ia mandi pagi tanpa disuruh. Setelah berpakaian... Tiba-tiba ia mendapat ide,

"Bunda.. Harusnya aku bikin kostum kupu-kupu! Aku tahu caranya, aku bikin dulu ya."

Hha.. Mungkin teman-teman menganggapnya sebagai gagasan kreatif. Tapi saat itu.. Evelyn belum sarapan. Swing mood Evelyn sangat dipengaruhi kondisi perutnya. Jadi.. Bagi saya itu adalah tantangan.

"Oh iya.. Ide bagus. Sekarang sarapan dulu aja Ei.. Nanti kalau sudah sarapan, baru bikin kostum." Saranku padanya.

Tapi dia keukeuh, mau membuat kostum dulu. Saya melanjutkan sisa pekerjaan rumah tangga, sambil sedikit cemas. Karena biasanya.. Jika Evelyn melakukan kegiatan dengan kondisi perut yang belum happy.. Swing mood nya akan muncul. Dan, rawan bad mood seharian.

Ternyata benar.. Tiba-tiba ia marah-marah berteriak kesal. Ternyata hiasan di sayap kupu-kupu, tidak sesuai yang ia harapkan.

Saya membujuknya untuk berhenti membuat kostum kupu-kupu. Awalnya ia tidak mau. Kemudian saya yakinkan ia, jika semua sudah selesai sarapan, saya akan membantunya.

Tidak sampai 1 menit. Ia sudah khusyu' menyantap sarapannya. 

Ketika kami selesai sarapan, saya memenuhi janji untuk membantunya. Saya tunjukkan bahwa yang dia buat tidak salah. Hanya saja ia buat saat kondisinya kurang kondusif. Kami bekerja sama membuat sayap kupu-kupu. Memperbaiki error yang terjadi, dan menyempurnakannya bersama-sama. Kostum pun selesai. Dan pada hari itu.. Evelyn tampil memuaskan


Ini penampilan pertama Evelyn bercerita di depan teman-temannya. So proud of you Ei.. 😊 

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Jumat, 10 November 2017

Persiapan Suara Anak Edisi Hari Pahlawan

Hari ini Nisrin dan teman-teman Gank Perpus melanjutkan persiapan event #SAPA #SuaraAnak Perpus Ambu. 


Kami membungkus hadiah-hadiah sebagai penyemarak. Evelyn dan Kirei juga semangat ikut membungkus. Jadi hasil bungkusannya unik... Bentuknya beragam. :D


Anak-anak masih belum menyelesaikan seluruh karya yang akan dipamerkan. Ada rasa gemas, karena mereka tidak segera menyelesaikannya. Hmm.. Apakah ini indikasi bahwa event ini bukan kebutuhan mereka? 

Tidak juga, event ini murni inisiasi dari anak-anak. Bahkan mereka awalnya minta tidak dibantu. Saya mulai membantu mereka di 7-H. Karena melihat ada kekompakan yang berkurang. Dan progress nya sedikit lamban. Anak-anak hanya memerlukan latihan untuk bisa mengatur timeline project dan konsisten dengan perannya masing-masing.

Alhamdulillah... Meski demikian, hari ini anak-anak masih bisa serius diajak mempersiapkan performance dan menyelesaikan karyanya. 

Selesai meski belum sempurna itu lebih baik daripada tidak selesai. 

Supaya tambah semangat, Saya usulkan untuk menyiapkan performance tambahan yang dapat menambah semangat anak-anak.

Dan ternyata berhasil... Do'akan supaya acaranya sukses dan berkah ya.. 

#ThinkCreative
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Kamis, 09 November 2017

Kawan Baru yang Lebih Produktif

Platform Whatsapp sudah 2 tahun belakangan ini menjadi kawan online saya dam menjalin pertemanan dengan orang yang baru saya kenal, muapun baru dikenal. Banyak kemudahan yang dihasilkan dari penggunaan platform ini. Saking mudahnya, Whatsapp Group jadi beranak-pinak hingga puluhan jumlahnya. 
Kegiatan diskusi, promosi, koordinasi, informasi, dan komunikasi menjadi terbiasa melalui whatsapp. Karena banyak yang menggunakan Whatsapp dan menjadikannya kawan online, jumlah chat bisa mencapai ratusan bahkan ribuan dalam sehari. O ow...

Chat di Whatsapp bercampur dengan aneka kepentingan. Tugas-tugas komunitas yang saat ini menjadi prioritas, juga ada di dalamnya. Tapi jadi sangat crowded dan kurang terorganisir.

Saya coba cari tips atau saran dari para ahli multi tasking. Ternyata.. Saya menemukan bahwa penggunaan platform whatsapp sebaiknya digunakan seperlunya untuk kebutuhan komunikasi santai.

Untuk komunikasi terstruktur, yang memiliki jalur koordinasi dan kolaborasi bisa menggunakan platform lain yang lebih tepat. Contohnya, Email bisa lebih produktif digunakan untuk kegiatan komunikas tematik, tapi bukan sebagai task manager. 

Paul Minors Productivity Blueprint

Contoh lainnya, membuat naskah/tulisan/data bersama akan lebih efektif jika menggunakan google doc dan melakukan koordinasi/kolaborasi melalui fitur komentar. Dikerjakan dalam 1 waktu khusus, agar bisa fokus. 

Kegiatan kuliah atau diskusi online, kini bisa dilakukan dengan aneka platform online class. Google juga sudah menyediakannya. 

Kelas Online seharusnya bisa menjembatani jadwal setiap orang yang beragam. Bukan sebaliknya, malah memaksa setiap orang untuk online sesuai waktu tertentu. 

Saat ini saya mencoba menggunakan platform Google Classroom sebagai media Kuliah/Kelas Online Bunda Sayang di IIP. Kawan Baru saya ini lebih terorganisir dan cerdas. Karena bisa meminimalisir clutter chat. Otomatis terhubung dengan drive, email dan kalender, membuat Saya serasa punya sekretaris pribadi.

Menjadi lebih rapi dan terorganisir artinya memberikan kesempatan bagi otak kita untuk lebih produktif. Tantangan akan selalu ada, mencari solusi cerdas atas tantangan merupakan salah satu proses kreatif dalam hidup. 

Jadi.. Berkawanlah dengan platform dan orang yang tepat, supaya hidup kita lebih positif, kreatif dan produktif.

Nah.. Apakah teman-teman punya kawan baru yang bisa dikenalkan pada saya? 

Sumber:
PaulMinors.com

#1minggu1cerita
#JurnalFasilitator
#KomunikasiProduktif
#ThinkCreative
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Rabu, 08 November 2017

Memberikan Kepercayaan

Minggu ini, anak-anak Perpus Ambu akan mengadakan acara SAPA. Suara Anak Perpus Ambu. Istimewanya, kegiatan kali ini mereka inisiasi secara mandiri. Mulai dari perencanaan, persiapan dan pengumpulan dana. 

Nisrin, Astri dan Ani semangat membuat aneka printable. Kadang gemas melihat hasilnya. Ini kurang ke tengah, atau font nya kenapa begitu, kenapa tidak ditambah elemen lain. Oops.. Tapi gak boleh seperti itu. Mereka sedang belajar, jadi harus diaptrsiasi. Nanti mereka akan belajar setelah melihat hasil karya mereka sendiri. Biarkan mereka yang mengevaluasi.


Anak-anak juga berulang kali mengatakan, "Iya Bunda... Acaranya udah Kita siapkan". Tapi saya masih gamang dan terus saja bertanya. Kalian udah siapkan presentasinya? Hasil karya yang mau dipamerkannya mana? Gimana Kalau dikumpulkan dari sekarang? Hfft... Sepertinya cara seperti itu malah bikin mereka sebal dan rasa kepercayaan dirinya malah bisa berkurang.

Jadi, Saya ubah strateginya. Saya bertanya pada anak-anak. Kalian mau bikin apa aja? Tulis keperluannya, dihitung, nanti kalian beli sendiri.

Dan.. Mereka langsung antusias. Saya juga minta mereka pegang uang kas, dan membuat pembukuan kasnya. Astri dan Ani perlu mengulang penulisan sampai 3X supaya catatannya rapi. :D


Setelah berbelanja keperluan yang tadi mereka catat. Saya kembali bertanya, Kalian sudah punya gambaran, setting ruangannya? Dekorasinya?

"Kita tadinya pengen pakai balon-balon. Hiasan kaya ulang tahun."

"Katanya kalian ingin dekorasi ruangan yang cocok untuk remaja?"

"Yah.. Gak apa-apa Bunda, lagian di sini banyaknya anak kecil. Kita ngalah aja deh.. Yang penting seru."

Hehehehe... Emang betul, anak #gankperpus yang sudah remaja sebetulnya ingin mengubah suasana perpus menjadi lebih youthful. Tapi mereka juga bingung, karena anak yang berkunjung dan aktif meramaikan, justru masih berusia PAUD s.d 3 SD. 

Setelah mereka yakin dengan konsepnya, saya bebaskan mereka untuk dekor ruangannya. 


Hari Kamis, rencananya mereka akan mengumpulkan anak-anak lain supaya bisa membuat hasta karya bersama. 

Baiklah.. Percayakan. 

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Senin, 06 November 2017

Menelisik Visual Design

Sejak beberapa hari lalu, Nisrin dan teman-teman #GankPerpus belajar membuat design poster dan aneka printable di canva. Sebelumnya mereka request untuk diajari photoshop atau corelDraw. Tapi setelah melewati proses belajar aneka aplikasi. Sepertinya mereka lebih baik belajar menggunakan canva saja. 

Sementara anak-anak asyik dengan canva, Saya asyik sendiri mengecat mushalla dengan warna broken white dan ruang kerja dengan warna deep blue. 

Kenapa saya memilih warna-warna itu? Apakah ada faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan saya dalam memilih warna?

Hari ini, Saya juga bolak-balik membaca ebook CoC Ibu Profesional. Dikarenakan hari ini ada jadwal share ebook ke Kelas Bunda Sayang. Dan.. Setelah mendapat feedback dari tersebarnya ebook CoC ini.. Saya jadi berpikir tentang cara membumikan CoC. Bagaimana agar CoC ini bisa dihayati dan diaplikasikan. Saya juga mendapat berbagai laporan tentang sinyal-sinyal pelanggaran CoC di berbagai pihak. Seketika itu juga sinyal tantangan menyala. 

Saya membuka kembali FAQ CoC, membaca lagi ebook, menjawab aneka pertanyaan.. Kemudian tiba-tiba muncul ide untuk membuat gambar sederhana. Awalnya ingin menggunakan photoshop, tapi laptopnya masih dipakai oleh Nisrin. Kemudian saya coba pakai aplikasi desygner di HP. Dan saya juga teringat mengenai pesan Ibu Septi mengenai bagaimana Kelas Fasilitator seharusnya. Lalu muncullah gambar ini di benak saya. Dan langsung terpikir, bagaiman respon teman-teman Fasilitator.


Saya mencoba membaca point of view dan kecenderungan rekan-rekan fasil melalui gambar tersebut. Responnya seru. Dan membuat Saya semakin ingin belajar untuk merencanakan diskusi dengan gaya seperti itu. Tidak menyuapi, tapi memantik dan memancing peserta untuk berpikir dan menuangkan gagasan. 

Setelah itu.. Saya mengajak teman-teman mengenal korelasi elemen visual dengan ketertarikan seseorang. Apakah elemen visual memiliki makna yang mendalam? Apakah ada ilmu untuk mengarahkan seseorang pada tujuan tertentu melalui elemen visual. Ya.. Semua itu ada ilmunya dan berawal dari elemen-elemen design.


Setelah teman-teman terpancing untuk menelisik elemen design, kemudian saya tampilkan cover ebook CoC yang dibuat oleh Ibu Septi.


Kenapa berwarna coral orange? Kenapa menggunakan gambar kamera sebagai elemen design? Kenapa menggunakan warna-warna netral untuk elemen-elemen tulisan? Kenapa menggunakan font seperti itu? Kenapa letak tulisannya seperti itu? Apakah itu atas dasar ketidaksengajaan? Atau apa ada dasar filososfisnya?

Tentu saja semua ada alasannya. Sungguh menarik bisa mengajak teman-teman untuk sedikit mengulik visual design gambar yang saya buat dan gambar cover ebook CoC Ibu Profesional. 

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
#JurnalFasilitator
#InstitutIbuProfesional

Minggu, 05 November 2017

Fast Food Night

Menyediakan makanan yang sehat, enak dan disukai anak. Menurut teman-teman itu kewajiban, kebiasaan atau tantangan?

Kalau Saya, jujur saja itu tantangan besar. Selain karena memasak belum menjadi passion, Saya juga belum cukup telaten untuk mengupgrade keterampilan di dapur. 

Untuk makanan sehat, andalan saya adalah Sarapan Buah dan sesekali membuat jus sayur. Catet yaaa... Sesekali. 😂
Ditambah kurma madu dan susu kedelai. Alhamdulillah Anak-anak suka. Jadi Saya anggap, anak-anak sudah cukup mendapat nutrisi yang sehat. Hehehe...

Untuk makanan yang enak.. Gak usah ditanya yaa... Kami keluarga doyan ngemil. Jadi pasti seneng makanan yang enak-enak.
Untungnya... Bagi anak-anak, rujak tomat, roti dan perkedel jagung aja udah enak banget.. Gak perlu dessert mewah. Kalau pun ada, ya memang rejekinya. 

Nah yang paling susah adalah menyiapkan makanan utama yang menarik. Ya karena memasak belum jadi passion, rasanya berat banget kalau harus menambah jam terbang di dapur. Alhasil suka gemes kalau nasi, lauk pauk dan sayur yang itu-itu aja kurang disambut dengan antusias. 

Tapi ada yang bisa membuat makanan yang itu-itu aja menjadi lebih menarik. Yaitu.. 
  • Izinkan mereka untuk plating makanan sendiri, dengan tambahan saus tomat mayonaise bahkan keju. 
  • Beri extra meal seperti sosis atau baso.
  • Jika ada kentang goreng, sediakan bumbu untuk taburan.

Seperti hari ini, anak-anak kurang semangat makan nasi dan lauk pauknya (Saya juga sebenarnya), bawaannya pengen ngemil... aja. Jadi setelah isya.. Dan terasa mulai lapar,  Kami mengadakan Fast Food Night. Kami menggoreng kentang, cireng, emping dan memanggang sosis. 

Anak-anak sangat bersemangat, mereka menata makanannya sambil berimajinasi. Evelyn menyusun kentang goreng menjadi huruf, dan bertanya pada kami bagaimana cara membacanya. Kirei membuat bentuk boneka. Banyak cerita yang mengalir, dan membuat kami betah untuk duduk bersama. 


Setelah selesai makan, tidak lupa mengingatkan anak-anak untuk minum air putih dan sari kurma sebagai nutrisi tambahan. 

Mungkin lain kali kami harus berusaha menyiapkan menu-menu serupa yang lebih sehat.. Misalnya membuat stock homemade nugget/sausage/french fries sendiri. Sehingga Fast Food night bisa diadakan lebih sering. 

Fast food night ini bisa membuat mood anak-anak jadi bagus. Setelah makanan habis, mereka dengan senang hati mencuci piring sendiri, bergegas untuk menggosok gigi, kemudian berkreasi.

Evelyn membuat multi frame dari kardus, dan membuat chalk holder.


"Bunda.. Aku mau jualan alat pemegang kapur. Jadi kalau nulis-nulis pakai kapur, tangannya gak kotor. Dan ada penghapusnya, praktis. Aku bikinnya cuma dari sedotan dan kain bekas."

Alhamdulillah.. Senangnya melihat mata Evelyn yang berbinar-binar ketika menunjukkan hasil kreasinya. 

Fast Food Night again? Yes! :D

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#FamilyForum
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Sabtu, 04 November 2017

Cemilan Kreatif

Pernahkah teman-teman merasa bosan di rumah.. Lalu ingin nongkrong di cafe, sekedar makan dan ngobrol? Saya sering banget..

Tapi menyadari, kalau yang terpenting itu bukan cafe nya, tapi kenyamanan kita ketika duduk makan bersama sambil ngobrol. Dan biasanya anak-anak belum betah diajak nongkrong di cafe. Tidak ramah di budget juga.. 😅

Salah satu pesan Pak Dodik (Suami Ibu Septi Peni), jika ingin keluarga semakin harmonis dan anak semakin cerdas adalah.. Perbanyak family forum dan main bareng. 

Maka hari sabtu ini kami benar-benar menyelenggarakan family forum seharian. Diselingi kegiatan laundry tentunya. :D

Cemilan dan makanan pun kami siapkan ala-ala cafe.. Sehingga mengundang anak-anak untuk duduk bersama di ruang tengah. 
Pisang Bakar Keju dan Buah Potong
Berkat aneka cemilan dan menu yang ala cafe.. Nisrin dan Evelyn bisa menyelesaikan design flyer untuk acara #SAPA. Evelyn juga mood nya bagus dan bisa bermain ceria bersama kirei dan teman-temannya. 
Nisrin dan temannya
melanjutkan design flyer #SAPA
Di siang hari, anak-anak juga membuat bola bola susu. Bukan sekedar untuk cemilan, tapi untuk dijual. Mereka sedang mengumpulkan dana untuk kegiatan #SAPA. Sebelum waktu ashar tiba, bola-bola susu sudah habis terjual.

Di sore hari, Saya mengajak Evelyn dan Kirei bermain soap dough. Awalnya sengaja saya buat setengah cair, setelah asyik dimainkan saya buat menjadi padat dan bisa dibentuk. Mereka pun asyik bermain soap dough dan mengajak teman-temannya ikut bermain. (Foto-fotonya tak sengaja terhapus oleh anak-anak.. 😂)

Rujak Tomat
Rujak Cireng
Pisang Goreng

Di malam hari, Ayah Nisrin kembali membuka family forum.. Ditemani pisang goreng kriuk. Evelyn sangat suka pisang goreng. Sambil menikmati pisang goreng, Evelyn mengungkapkan imajinasinya ketika melihat bentuk pisang goreng.

"Lihat.. Aku makan bagian ini, jadi mirip Pinky Pie (Red: Tokoh Kuda poni)."

"Kalau yang ini seperti bebek yang mau terbang."

Dan Kami hanya tertawa melihat Evelyn yang sangat khusyu' menikmati pisang goreng sambil berimajinasi. 

Aih... Hari ini cemilannya bikin tambah kreatif.

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Jumat, 03 November 2017

Menyiapkan Weekend yang Lebih Seru

Tiada hari tanpa tantangan. Rasanya itu dialami oleh semua orang di dunia ini. Hari Jum'at biasanya merupakan housekeeping day bersama anak-anak. 

Mulai dari cabut rumput di halaman belakang, bongkar kardus dan bahan untuk berkreasi, sampai deep cleaning perabotan rumah. 

Tapi tidak semua jum'at kondusif. Misalnya saja kali ini, Nisrin sudah punya janji dengan sahabatnya untuk bertemu di Sekolah Qurratu'aini. Biasanya, di hari jum'at kami tidak ke sana, tapi karena Nisrin ada janji, jadi kami harus ke sana. 

Pikiran mulai terbagi, memikirkan rumah dan pekerjaan rumah tangga yang ditunda. Terbayang jika di hari Sabtu punya to do list dengan jumlah lebih banyak. Namun saya coba alihkan pikiran itu pada kegiatam yang lebih produktif, seperti menyelesaikan Penilaian Fasil dan melanjutkan dekorasi dinding sekolah.

Saat akan pulang ke rumah, tiba-tiba Saya memutuskan untuk singgah ke supermarket dulu. 

"Kita belanja mingguannya sekarang aja yuk! Jadi besok kita punya waktu lebih untuk kerjain project lain sama Ayah." Saya mengajak anak-anak untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan. 

Anak-anak setuju, dan mereka berjanji akan bekerja sama membawa barang belanjaan. 

Ya, biasanya belanja mingguan hampir selalu di hari Sabtu bersama Ayahnya. Tapi kali ini tidak. Saya pikir.. Jika Saya melakukan persiapan kebutuhan mingguan lebih awal, akan ada waktu luang lebih banyak di hari Sabtu dan Minggu. 

Setelah berbelanja dan sampai di rumah, Nisrin minta izin untuk menggunakan laptop untuk belajar membuat poster. 

Nisrin sedang belajar cara menggunakan canva

Dengan menggunakan poin-poin komunikasi produktif.. saya bertanya pada Nisrin..

"Standar sore itu apa?", dengan intonasi dan suara ramah
"Ok.. Aku mandi dan shalat ashar dulu. Setelah itu Aku boleh pakai laptop yaa.."

Sementara Nisrin menyelesaikan standar sore, Saya menyiapkan persiapan menu akhir pekan, dan merapikan area ruang makan dan dapur, selama 1 jam. Saya batasi durasinya.

Setelah 1 jam, Saya beralih pada me time.. Sambil menunggu Kirei bangun. Ternyata.. Banyak hal yang bisa saya lakukan saat memutuskan durasi tersebut adalah me time.. Salah satunya, membuat space penyimpanan tas menjadi lebih rapi. Dan saya menganggap kegiatan itu sebagai me time! (Dasar Ibu Rumah Tangga.. :P)

Ketika Kirei bangun dan masuk ke kamar Saya, dia mengambil kesimpulan sendiri.. 

"Oh.. Bunda bikin kotak tas dari kardus yg dari y*gya.. Jadi tas bunda dan aku gak campur-campur ya..."

Hehehe... Iya.. Saya membuat bag storage sederhana dari kardus bekas belanja mingguan. Sehingga pojok lemari menjadi lebih rapi. 

Alhamdulillah... Berubahnya kebiasaan mingguan ternyata bisa membawa dampak positif pada banyak hal. Kami siap untuk weekend yang lebih seru. :D

*foto pojok lemari tidak disertakan. Terlalu private :D

#ThinkCreative
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional